Jumat, 23 Mei 2014

Cerpen : Ahmad & Al-Qur'an


Ahmad & Al-Qur’an

Alkisah ada seorang anak yang bernama Ahmad. Ahmad adalah anak baik dan patuh pada orangtua. Dia juga anak yang rajin belajar dan membaca Al-Qur’an. Tapi dulu Ahmad hanya sering bermain. Jarang belajar.
“Kapan si Ahmad mulai suka belajar?” tanya bu Aisyah suatu hari. Bu Aisyah adalah guru favorit Ahmad. Bu Aisyah adalah wanita yang baik, shalehah dan cantik. Beliau selalu memberi motivasi untuk murid-muridnya. Termasuk Ahmad.
“Kok bu guru tanya begitu?” Ahmad balik bertanya. Kini Ahmad di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Dia itu bintang di kelasnya.
“Ibu mau tahu aja. Mungkin bisa diceritakan ke kawan-kawan yang lain. Biar jadi motivasi juga.” Jawab bu Aisyah sambil tersenyum tanda sayang.
Ahmad maju ke depan. Dia merapikan baju putihnya. Dia pun mulai bercerita.
“Dulu sewaktu masih kelas satu. Saya sangat malas belajar. Apalagi membaca Al-Qur’an. Ibuku selalu ngajarin saya mengaji, padahal saya gak suka.” Ahmad berhenti sejenak. Dia sedikit bergeser ke kiri.
“Saya pengen-nya main melulu. Loncat sana loncat sini. Main petak umpet dengan kawan-kawan. Hingga suatu hari ibuku berkata padaku.” Ahmad tidak melanjutkan ceritanya. Dia terlihat menunduk. Berusaha mengenang masa itu. “Hiks..hiks..” Air matanya menetes penuh haru.
“Ibuku bilang, Ahmad, kamu akan jadi orang besar nak. Orang besar itu selalu belajar. Kamu harus jadi penghafal Al-Qur’an. Biar bisa do’ain ibu.” Lanjut Ahmad sambil mengusap air matanya.
“Mulai hari itu saya menjadi rajin belajar, rajin mengaji dan membantu Ibu. Sekian dulu cerita saya kawan-kawan. Semoga bisa jadi pelajaran. Ternyata ibu kita di rumah sangat mencintai kita. Ibu kita ingin melihat anaknya sukses. Terimakasih” tutup Ahmad. Lalu dia melangkah kembali ke bangkunya.
Bu Aisyah mendekati Ahmad. Beliau mengusap kepalanya. “Terimakasih Ahmad. Ceritamu bagus! Ayo anak-anak kita bertakbir memberi semangat untuk Ahmad! Allahu Akbar!!”
“ALLAHU AKBAR!!!” teriak semua murid serempak. Membuat kelas hari itu bergetar karena gema suaranya. Teriakan yang membakar semangat siapapun yang mendengarnya.
***
Sepulang sekolah, Ahmad langsung pulang ke rumah. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum, ummi?” Ahmad memanggil ibunya. Ahmad lebih suka memanggil ibunya dengan sebutan ‘Ummi’. Ibu Ahmad adalah wanita luar biasa. Beliau sangat telaten dalam mendidik anak-anaknya.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah, anak ibu sudah pulang!” Satu kecupan hangat mendarat di dahi Ahmad. Ahmad memejamkan matanya tanda hatinya senang.
Ahmad segera membersihkan diri. Dia bersiap-siap untuk shalat dhuhur berjama’ah di masjid. Sekolah Ahmad sengaja membuat jadwal pulang sekolah lebih awal. Menyesuaikan dengan jadwal shalat. Jadi anak-anak bisa shalat tepat waktu.
Selesai berwudu’ dan memakai baju koko, Ahmad keluar rumah. Sambil melangkahi pintu dia mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” Di tengah jalan menuju masjid yang tidak terlalu jauh, Ahmad berjumpa dengan Ibrahim, teman sekelas dan teman mengajinya.
“Assalamu’alaikum Ibrahim” sapa Ahmad sambil tersenyum.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah, eh Ahmad. Mana si Yusuf?” balas Ibrahim sambil bertanya tentang Yusuf, teman dekat mereka juga.
“Gak tahu tuh, Ibrahim. Apa dia sakit? Nanti coba kita kunjungi ya.” Jawab Ahmad yang terus melangkah ke masjid.
“Iya, nanti kita pergi sama-sama ya!”
“Yups.. Udah adzan. Ayo cepat!” kata Ahmad.
Sesampainya di masjid, mereka mendapati jama’ah shalat sudah ramai. Ahmad dan Ibrahim mencari tempat kosong untuk duduk. Tapi sebelum duduk mereka shalat dulu dua raka’at. Bu guru bilang namanya shalat tahyatul masjid.
Selain Ahmad, Ibrahim dan Yusuf, banyak juga anak yang lainnya shalat di masjid. Mereka membuat shaf shalat sendiri di belakang orang dewasa. Semuanya shalat dengan tertib. Hingga shalat selesai tidak ada satu orang pun yang ribut.
Selesai shalat Ahmad dan Ibrahim pulang ke rumah masing. Mereka akan bertemu setelah makan siang untuk pergi ke rumah Yusuf.
***
Ahmad dan Ibrahim akhirnya sampai di rumah Yusuf.
“Assalamu’alaikum” ucap mereka serempak sambil mengetuk pintu.
Dari balik pintu keluar seorang wanita setengah baya. Bu Aminah namanya. Beliau adalah ibu Yusuf.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.. Ahmad..Ibrahim.. Ayo masuk!!” jawab ibu Yusuf sambil tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.
“Yusufnya ada bu?” tanya Ahmad saat melangkah masuk ke rumah.
“Ada di dalam. Dia lagi kurang enak  badan. Yusuf!! Kawanmu datang nak!!” kata ibu Yusuf.
“Oh, Ahmad dan Ibrahim. Senang kalian mau datang kesini” kata yusuf tersenyum kecut. Dia sedang demam. Badannya panas. Dari hidung dan matanya keluar cairan.
“Semoga cepat sembuh ya Yusuf. Biar kita bisa main bersama lagi. Mengaji dan bersama lagi” kata Ibrahim menghibur Yusuf.
“Semoga cepat sembuh ya Yusuf. Shabar! Ini cuma demam kok. Insya Allah gak lama lagi sudah sembuh. Banyak minum dan makan buah ya. Kata ibuku dengan begitu bisa nurunin panas.” Kata Ahmad juga ikut menghibur.
“Aku senang sekali melihat kalian. Aku ingin cepat sembuh juga. Semoga bisa bermain lagi bersama kalian” kata Yusuf lagi sambil tersenyum.
“Baiklah Yusuf. Istirahat yang banyak ya. Jangan lupa berdo’a sama Allah. Kami pamit dulu” kata Ibrahim juga mewakili Ahmad.
“Kami pamit juga bu, Assalamu’alaikum” kata Ahmad dan Ibrahim.
***
Beberapa hari kemudian. Di halaman SD Harapan Umat terlihat anak-anak sedang bermain dengan riangnya. Di antara mereka ada Ahmad, Ibrahim dan Yusuf. Yusuf sudah sehat sekarang. Mereka bisa belajar, bermain dan mengaji bersama lagi.
Sambil duduk beristirahat. Ahmad melihat teman-temannya. Dalam hati dia berdo’a. “Ya Allah. Jadikanlah kami anak-anak yang shaleh, yang berbakti pada kedua orangtua. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama orangtua kami. Amiin”

Kamis, 15 Mei 2014

SIAPA TEMANMU?


MEMILIH TEMAN
Untuk mendapatkan kebahagiaan dalam berteman, temukan lingkungan yang benar. Jika tidak ada, maka kewajiban kitalah mewujudkannya. Jika belum mampu, maka berkawanlah dengan orang-orang shaleh.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al Kahfi [18] : 28)
Berkawan dengan para da’I yang ikhlas di jalan Allah swt, karena Rasul pun diperintahkan oleh Allah untuk bersabar dengan mereka.
Kita berlindung pada Allah ‘Azza wa jalla dari kelalaian kita dalam berkawan.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqan [25] : 27-29)
Allah dengan tegas memerintahkan kita berkawan atau bergabung dengan orang-orang yang benar setelah beriman dan bertakwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah [9]:119)
Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim : “Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap.
Kita berlindung pada Allah ta’ala agar dijauhkan dari syaithan dan semoga tidak termasuk golongannya.
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az Zukhruf [43]:36-37)
Kemudian, sikap kita dalam berkawan selanjutnya ialah berpaling dari orang-orang yang lalai dan hanya mementingkan dunia. Hal ini sesuai firman Allah :
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  
Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. An Najm [53]:29)
Selanjutnya, kita harus meninggalkan orang-orang yang menjadikan agama Islam ini sebagai main-main dan senda gurau, mereka hanya bertopeng Islam, mengimani sebagian tapi mengingkari sebagian. Kita juga harus menjauhi orang-orang yang menolak kebenaran.
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ
Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (QS. Al An’am [6] : 70)
Mereka yang menjadikan agama main-main dan senda gurau menyedihkan di akhirat nanti.
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ
الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: " Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu". mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan Pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.” (QS. Al A’raf [7] : 50-51)
Adapun perumpamaan mereka yang menolak kebenaran adalah seperti anjing.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al A’raf [7] : 176)
Kita tidak boleh bertoleransi dengan orang-orang seperti itu, dengan terus kita ajak pada kebenaran. Sampai mereka kembali pada kebenaran.
¨إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),” (QS. An Nisa’ [4]:150)
Teman, mari kita pedomani Al-Qur’an ini seutuhnya, agar kita bisa keluar dari dzulumat menuju nur dengan izin-Nya insya Allah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An Nisa’ [4]:1)
Jangan sampai kita mengimani sebagian tapi mengingkari sebagian yang lain. Karena yang benar itu benar dan yang salah itu tetap salah.
وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2] : 42)
Meskipun zaman sekarang adalah zaman fitnah, tapi kebenaran akan selalu ada, inilah janji Allah.
Hadis riwayat Mughirah ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Suatu kaum dari umatku akan senantiasa saling membantu membela manusia (dalam kebenaran) hingga datang hari kiamat sedang mereka tetap saling membantu. (Shahih Muslim No.3545)
Akhirnya, kita berlindung pada Allah swt agar tidak menjadi pemecah belah agama. Ikutilah kebenaran dengan ilmu, karena kebenaran itu cahaya. Jangan bertaqlid pada kelompok.
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Rum [30] : 32)
“Ilmu itu cahaya Allah, tidak akan diberikan pada pemaksiat, karena maksiat dapat memadamkan cahaya”

Sabtu, 10 Mei 2014

KISAH PENGEMIS



Alkisah, ada seorang lelaki yang sedang duduk-duduk bersama istrinya. Mereka sedang memakan seekor ayam panggang. Kemudian datanglah seorang pengemis, memelas “Berilah untukku sebagian dari yang telah Allah berikan pada kalian.” Maka lelaki tadi bangkit dan mencelanya. Pengemis tadipun beranjak dengan perasaan terluka dan sedih.
Setelah berlalunya hari, masa berganti, lelaki tadi menjadi miskin setelah sebelumnya kaya. Dia butuh untuk meminta-minta pada manusia dan mulai hidup dari sedekah orang-orang dermawan. Dia tidak sabar atas cobaan ini. Diapun pergi dari negerinya setelah menceraikan sang istri. Sang istri ini menikah dengan orang lain.
Tatkala dia duduk bersama suaminya makan sesuatu, muncul seorang pengemis di depan pintunya, memelas, “Berilah untukku sebagian apa yang telah Allah berikan pada kalian.” Sementara di depan mereka ada ayam. Maka berkatalah si suami pada sang istri, “Berikan ayam ini dan beberapa roti besar untuknya.”
Lalu, setelah dia memberikannya pada pengemis tadi, sang istri kembali sambil menangis. Maka, si suami bertanya padanya tentang sebab apa dia menangis. Sang istripun menjawab sambil berkata, “Pengemis tadi adalah suamiku yang pertama!”
Sang istri menceritakan kepada suaminya kisah seorang pengemis yang datang lalu ditolak oleh suaminya pertama dengan tidak hormat. Maka berkatalah si suami, “Demi Allah, akulah pengemis itu!”
(Diterjemahkan dari Baena Yadaek 3 hal. 402)

Minggu, 04 Mei 2014

TAUBAT


TAUBAT

Bertaubatlah pada Allah,
semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Bertaubatlah pada Allah,
semoga Allah menghapus kesalahan-kesalahan kita dan menggantikannya dengan kebaikan.
Bertaubatlah dengan sebenar-benarnya,
yakini bahwa kebenaran itu benar,
dan ingkari segala kebatilan.

Sebuah Renungan


WAHAI JIWA
Oleh: Ibnu Surapati

Aku berkata pada jiwa
Wahai jiwa
Engkau mengharap ridha-Nya
Tapi kau maksiati
Engkau ingin kasih sayang-Nya
Tapi kau khianati

Wahai jiwa
Kau harus tahu
Saat Allah ridha padamu
Semua selain-Nya turut meridhaimu

Hai jiwa
Apa yang kau rindui
Mutiara hatimu tak kan pergi
Jika takdir itu memang untukmu
Sungguh kita pasti kan bertemu

Wahai jiwa
Apakah rindu yang kau pendam
Hari-harimu penuh bayangannya
Memenuhi hati dan pikiran
Kalau saja kau tahu
Kaki ini kan terus melangkah
Tak peduli penat dan lelah

Hingga aku yakin dan bahagia
Saat kaki ini menginjak surga.

April 2014

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons