Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Memilih Dakwah

Mulailah anak yang mendekati baligh ini mempelajari kitab-kitab mereka secara ilmiah. Maka ia memperhatikan Injil, mempelajarinya hingga menghafalnya di luar kepala, kemudian ia membandingkannya dengan Al-Quran, ia mendapati perbedaan yang banyak. Namun ia belum merasa cukup dan belum hilang hausnya. Maka ia melakukan perjalanan untuk membela Islam.
Pertama yang ia ajak untuk berdebat adalah pemilik toko, tempat dimana ia bekerja. Ia mendebatnya dan membuatnya tidak berkutik. Kemudian ia lanjutkan dengan menantang beberapa pendeta dan ia dapat menjatuhkan mereka melalui tangan mereka sendiri dan mereka tidak dapat mempertahankan kebenaran keyakinan mereka di hadapan ribuan orang yang membanjiri ruang pertemuan.
Ia ingin membungkam mulut orang Nasrani selamanya agar tidak lancang menghina Islam. Maka ia meningggalkan pekerjaaannya pada pemilik toko nasrani tersebut. Ia mulai menemui orang-orang Nasrani yang datang ke Afrika Selatan dan mengajaknya berdiskusi. Ketika dialog dan debat yang ia lakukan telah banyak dan usianya mencapai tiga puluhan tahun, maka ia memulai dialognya dengan kalangan pendeta Nasrani.
Semenjak hari itu, suaranya ibarat petir yang menggelegar hingga negara-negara barat yang Nasrani, gema yang menggoncangkan aula-aula Vatikan. Pembicaraanya menggema di barat dengan diskusi dan dialognya yang terkenal dan melambungkan reputasinya. Dan ia terus menantang dan gaungnya tetap menggema hingga hari ini.
Pembicaraan sekitar pertentangan dalam Injil mendorong gereja, pusat-pusat studi Nasrani dan banyak perguruan tinggi di barat membentuk departemen tersendiri dalam menaggapi dan mendebat dirinya dan buku-bukunya melalui penelitian dan studi mendalam.
Pemilik toko yang biasa dan temannya dari kalangan pendeta diatas telah menggugah akal dan hati anak muslim ini. Mereka telah membangunkan anak yang lemah lembut itu hingga menggemparkan dunia dan mengguncang Vatikan, menggetarkan gereja-gereja mereka dan membongkar banyak kekeliruan dalam agama mereka.
Anak tersebut bernama Ahmad Deedat.
Sumber: IslamPos

Rabu, 01 Februari 2017

Maksiat Berbanding Lurus Dengan Keburukan

"Maksiat itu berbanding lurus dengan keburukan."
Contoh :
Saat seseorang melakukan maksiat, maka dia akan ditimpa keburukan (gelisah, hilang kepercayaan, diremehkan, merasa kurang, dan yang lainnya). Keburukan ini bisa juga tertimpa pada orang terdekat kita. orang yang kita cintai.
Kisah Nyata :
Sepasang suami istri hidup bahagia. Mereka memiliki sebuah toko perhiasan. Suatu hari, datang pembeli ke tokonya. Seorang wanita. Sementara yang menjaga toko ialah sang suami. Wanita yang membeli tadi cukup cantik, sehingga menarik perhatian si suami. Ketika wanita ini memilih perhiasan, ia minta dipasangkan ke tangannya. Si suami pun dengan sigap memasangnya. Dia memegang tangan wanita itu.

Sepulangnya dari toko, si istri menyambut sang suami dengan senyuman bercampur kesedihan. Dia bertanya, "Suamiku, apa yang terjadi padamu hari ini?"
"Tidak ada, berjalan seperti biasa. Saya melayani pembeli sebagaimana biasa,"
"Jujurlah suamiku! Pasti ada kejadian yang tak biasa hari ini," tanya si istri menyelidik.
"Maafkan aku wahai istriku, tadi datang seorang wanita membeli perhiasan di toko, dan aku memegang tangannya saat mencocokkan perhiasan yang akan dia beli." jawab sang suami merasa bersalah.
"Kau tahu wahai suamiku? Terjadi sesuatu yang buruk padaku hari ini, lelaki pengantar air yang biasa datang ke rumah, berani memegang tanganku."
Di rumah, si istri menunggu pesanan air minum, sebagaimana biasa. Pesanan datang dibawa oleh seorang lelaki. Kebiasaannya, sang suami sudah membayar terlebih dahulu, tapi kali ini dia lupa. Biasanya juga si pengantar hanya mengantarkan sampai di depan rumah, tanpa berjumpa langsung dengan penghuni rumah (si istri). Terpaksa si istri yang harus membayar langsung. Ketika si istri keluar dan mengulurkan tangannya untuk menyerahkan uang, lelaki tadi begitu berani mendekatinya, sangat dekat, sampai-sampai dia memegang tangan si istri. Si istri lalu menarik tangannya dan beristigfar, begitu juga dengan lelaki pengantar air tadi.
Si istri menangis tersedu.

Keduanya pun menangis.

Senin, 30 Januari 2017

Aku Tahu Siapa Kamu

"Kini kutahu siapa kamu," katanya pasti, sambil menatapku lekat.
"Oh ya." Aku menjadi penasaran. "Apa yang kau tahu?"
"Kau itu ..." Dia menghentikan ucapannya dan memperhatikan reaksiku.
"Kau itu apa? kok berhenti?" Aku semakin penasaran.
"Kau itu ..."
"Apa?"

"Kau itu hanya seonggok daging yang mengaku berakal!"
"Kamu pikir kau lebih baik dariku?"
"Tidak juga,"
"Lantas?"
"Aku sama seperti kamu."
"Oh ya?"
"Karena akulah dirimu!"

PRAANG!!
Cermin itu pecah berkeping-keping.

Sabtu, 21 Januari 2017

Suatu Pagi di Negeri di Atas Awan

"Kau rasakan dingin ini?" tanyaku, sambil menarik selimut tebal.
"Brrr ...!! Inikah tempat yang sering kau ceritakan itu?" Dia menikmati dingin ini.
"Ya, inilah tempat itu. NEGERI DI ATAS AWAN!" jawabku tersenyum bangga.

Selasa, 17 Januari 2017

Kau Sahabatku!

"Kau jalani saja jalanmu! Jangan urus aku!"
"Kau sahabatku,"
"Sahabat? Tapi kau banyak komentar, kesal!"
"Bukankah sahabat yang setia itu selalu mengingatkan kita saat salah?"

Sabtu, 07 Januari 2017

'ORANGTUA YANG DURHAKA'


Suatu hari, ada seorang bapak yang mengadu kpd Umar ttg anaknya yang sangat bandel dan nakal, “wahai amirul mu’minin! Anak saya sangat bandel, anak saya telah durhaka, malah dia berani menamparku”.
Umar pun berkata, “kalau benar begitu, panggil anakmu kemari!”
Setelah anak itu sampai di hadapan sang Amirul mu’minin, Umar menasehatinya dengan nasehat yang sangat baik , si pemuda ini tadipun menyimak dengan seksama, ketika Umar selesai berbicara si pemuda ini mulai angkat berbicara, “wahai Umar, bolehkah saya bertanya?”
Umar menjawab, “Tentu wahai anak muda, silahkan!”
“wahai amirul mu’minin, tolong sebutkan apakah kewajiban orangtua yang harus ia tunaikan pada anaknya?”
Maka umar radhiallahu ‘anhu menjelaskan, “Oh, ada 3,
Pertama, sebelum dia menikah, dia harus mencari calon istri yang sholehah,
Kedua, Jika Allah memberi dia rizki berupa anak, dia harus menamainya dengan nama yang bagus/nama-nama islami,
Ketiga, apabila anak ini beranjak besar, maka dia wajib mengajarinya Al-Qur’an.”
Mendengar jawaban sang Amir, pemuda tadi berkata, “Wahai amirul mu’minin, sesungguhnya ayahku ini tidak menunaikan satupun dari yang engkau sebutkan, Ibu saya seorang majusi, bagaimana saya bisa mengenal Islam? Dan apakah engkau tahu siapa namaku? Dia memberiku nama Ja’ran (kotoran onta), dan yang ketiga, jangankan mengajarkan Al-Qur’an, satu huruf pun tidak pernah ia ajarkan kepadaku.”
Lantas Umar berpaling kepada sang Ayah, “ternyata bukan anakmu yang durhaka, tetapi kamulah yang durhaka kepada anakmu.”
Mari bersama-sama kita tingkatkan semangat untuk belajar, belejar dan belajar.


note: saya belum dapat rujukan yang valid tentang kisah ini.

Sabtu, 10 Mei 2014

KISAH PENGEMIS



Alkisah, ada seorang lelaki yang sedang duduk-duduk bersama istrinya. Mereka sedang memakan seekor ayam panggang. Kemudian datanglah seorang pengemis, memelas “Berilah untukku sebagian dari yang telah Allah berikan pada kalian.” Maka lelaki tadi bangkit dan mencelanya. Pengemis tadipun beranjak dengan perasaan terluka dan sedih.
Setelah berlalunya hari, masa berganti, lelaki tadi menjadi miskin setelah sebelumnya kaya. Dia butuh untuk meminta-minta pada manusia dan mulai hidup dari sedekah orang-orang dermawan. Dia tidak sabar atas cobaan ini. Diapun pergi dari negerinya setelah menceraikan sang istri. Sang istri ini menikah dengan orang lain.
Tatkala dia duduk bersama suaminya makan sesuatu, muncul seorang pengemis di depan pintunya, memelas, “Berilah untukku sebagian apa yang telah Allah berikan pada kalian.” Sementara di depan mereka ada ayam. Maka berkatalah si suami pada sang istri, “Berikan ayam ini dan beberapa roti besar untuknya.”
Lalu, setelah dia memberikannya pada pengemis tadi, sang istri kembali sambil menangis. Maka, si suami bertanya padanya tentang sebab apa dia menangis. Sang istripun menjawab sambil berkata, “Pengemis tadi adalah suamiku yang pertama!”
Sang istri menceritakan kepada suaminya kisah seorang pengemis yang datang lalu ditolak oleh suaminya pertama dengan tidak hormat. Maka berkatalah si suami, “Demi Allah, akulah pengemis itu!”
(Diterjemahkan dari Baena Yadaek 3 hal. 402)

Selasa, 14 Januari 2014

Waddoh : Pemuda dalam kisah Ashabul Ukhdud


Ada kisah menarik yang bisa diambil pelajaran oleh para pemuda. Kisah ini disebut dengan kisah ashabul ukhdud. Kisah ini menceritakan pemuda yang teguh imannya, walau didera berbagai siksaan.
Kisah ini disebutkan dalam firman Allah,
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ (1) وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ (2) وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ (3) قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (9)
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Buruj: 1-9).
Kisah selengkapnya mengenai Ashabul Ukhdud diceritakan dalam hadits yang panjang berikut.
عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَىَّ غُلاَمًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ. فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَمًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِى طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِى أَهْلِى. وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِى السَّاحِرُ.
Dari Shuhaib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan ia meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.
Di tengah perjalanan ingin belajar, anak ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika terlambatnya mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia pun mengadukannya pada rahib. Rahib pun berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir tersebut, maka katakan saja bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanku.”
فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِىَ النَّاسُ. فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَىْ بُنَىَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّى. قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنِ ابْتُلِيتَ فَلاَ تَدُلَّ عَلَىَّ
Pada suatu saat ketika di waktu ia dalam keadaan yang demikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak (di jalan yang dilalui mereka). Anak itu lalu berkata, “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, “Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.” Lalu ia melempar binatang tersebut dan terbunuh. Lalu orang-orang bisa lewat.  Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, “Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.”
كَانَ الْغُلاَمُ يُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَيُدَاوِى النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِىَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ فَقَالَ مَا هَا هُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِى فَقَالَ إِنِّى لاَ أَشْفِى أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِى اللَّهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللَّهِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكَ. فَآمَنَ بِاللَّهِ فَشَفَاهُ اللَّهُ
Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia pun mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata pada pemuda tersebut, “Ini semua bisa jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku.” Pemuda ini pun berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdo’a pada-Nya supaya engkau bisa disembuhkan.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.
فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ قَالَ رَبِّى. قَالَ وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِى قَالَ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ. فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلاَمِ فَجِىءَ بِالْغُلاَمِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ أَىْ بُنَىَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ . فَقَالَ إِنِّى لاَ أَشْفِى أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِى اللَّهُ. فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ فَجِىءَ بِالرَّاهِبِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ. فَأَبَى فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِىءَ بِجَلِيسِ الْمَلِكِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ. فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ
Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja pun bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia pun menjawab, “Rabbku.” Raja pun kaget, “Apa engkau punya Rabb (Tuhan) selain aku?” Sahabatnya pun berkata, “Rabbku dan Rabbmu itu sama yaitu Allah.” Raja tersebut pun menindaknya, ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi. (Ketika anak tersebut datang), raja lalu berkata padanya, “Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Pemuda tersebut pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.” Mendengar hal itu, raja lalu menindaknya, ia terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada pendeta yang menjadi gurunya. (Ketika pendeta tersebut didatangkan), raja pun memerintahkan padanya, “Kembalilah pada ajaranmu!” Pendeta itu pun enggan. Lantas didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan pula, ia pun diperintahkan hal yang sama dengan pendeta, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Lantas (terjadi hal yang sama), didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut.
ثُمَّ جِىءَ بِالْغُلاَمِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ. فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا فَاصْعَدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلاَّ فَاطْرَحُوهُ فَذَهَبُوا بِهِ فَصَعِدُوا بِهِ الْجَبَلَ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ. فَرَجَفَ بِهِمُ الْجَبَلُ فَسَقَطُوا وَجَاءَ يَمْشِى إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ. فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوا بِهِ فَاحْمِلُوهُ فِى قُرْقُورٍ فَتَوَسَّطُوا بِهِ الْبَحْرَ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلاَّ فَاقْذِفُوهُ. فَذَهَبُوا بِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ. فَانْكَفَأَتْ بِهِمُ السَّفِينَةُ فَغَرِقُوا وَجَاءَ يَمْشِى إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيهِمُ اللَّهُ.
Kemudian giliran pemuda tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, “Kembalikan pada ajaranmu!” Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, lalu ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki gunung. Lalu pemuda ini berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya jatuh. Lantas pemuda itu kembali berjalan menuju raja. Ketika sampai, raja berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.” Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja memerintahkan pada pasukannya, “Pergilah kalian bersama pemuda ini dalam sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, maka bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkanlah dia.” Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Tiba-tiba sampan tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali berjalan mendatangi raja. Ketika menemui raja, ia pun berkata pada pemuda, “Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” Pemuda tersebut menjawab, “Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.”
فَقَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِى حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ. قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَتَصْلُبُنِى عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِى ثُمَّ ضَعِ السَّهْمَ فِى كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قُلْ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلاَمِ.
ثُمَّ ارْمِنِى فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِى. فَجَمَعَ النَّاسَ فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِى كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلاَمِ. ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِى صُدْغِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فِى صُدْغِهِ فِى مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ.
Ia pun berkata pada raja, “Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.” Raja pun bertanya, “Apa syaratnya?” Pemuda tersebut berkata, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu panahlah aku karena jika melakukan seperti itu, engkau pasti akan membunuhku.” Lantas rakyat pun dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di pelepah, lalu raja tersebut mengambil anak panah dari tempat panahnya kemudian diletakkan di busur. Setalah itu, ia mengucapkan, “Bismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.” Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya. Lalu pemuda tersebut memegang pelipisnya tempat anak panah tersebut menancap, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut lalu berkata, “Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut. Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut.”
فَأُتِىَ الْمَلِكُ فَقِيلَ لَهُ أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ قَدْ وَاللَّهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ. فَأَمَرَ بِالأُخْدُودِ فِى أَفْوَاهِ السِّكَكِ فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيرَانَ وَقَالَ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِينِهِ فَأَحْمُوهُ فِيهَا. أَوْ قِيلَ لَهُ اقْتَحِمْ. فَفَعَلُوا حَتَّى جَاءَتِ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِىٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيهَا فَقَالَ لَهَا الْغُلاَمُ يَا أُمَّهِ اصْبِرِى فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ
Raja datang, lantas ada yang berkata, “Apa yang selama ini engkau khawatirkan? Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan pemuda tersebut.” Lalu raja tadi memerintahkan untuk membuat parit di jalanan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja tersebut pun berkata, “Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.” Atau dikatakan, “Masuklah ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya. Anaknya pun lantas berkata, “Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.” (HR. Muslim no. 3005).
Semoga kisah ini jadi pelajaran berharga bagi para pemuda atau remaja.
---
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel RemajaIslam.Com

Kamis, 18 April 2013

Wawancara



Bismillahirrahmanirrahim..
Diceritakan kepada sebuah kisah, tentang seorang anak yang sedang di interview untuk masuk sebuah ma’had (setingkat SMP). Kisah ini mengajarkan kita bagaimana pikiran dan kata-kata positif mempengaruhi cara pandang kita dan cita-cita kita.
Interviewer (I) : kenapa kamu memilih ma’had dari pada sekolah umum? Padahal disana kamu bisa bebas untuk berpacaran, main ha-pe, dsb.
Anak (A) : saya ingin menjadi orang Islam yang paham tentang Islam.
Sang Interviewer terharu mendengar jawaban anak tersebut, lalu bertanya,
I : apa cita-citamu?
A : saya ingin menjadi pengusaha!
I : lho.. kamu ingin jadi pengusaha kok ke tempat seperti ini, bukannya ke tempat umum yang lain?
Dengan nada mantap sang anak menjawab,
A : saya ingin menjadi PENGUSAHA MUSLIM!
Lihatlah betapa anak ini berbicara dengan ungkapan yang positif, yang sangat jarang kita temui ungkapan seperti itu dari orang seumurannya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)
Rasulullah –Shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan bersikap lemah (pesimis)”. (HR. Muslim)

sumber gambar : https://www.redhuanassyabab.blogspot.com/

Sabtu, 13 April 2013

Alexander Pertz, Kisah Bocah Amerika yang Masuk Islam


KISAH Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat.

Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ‘Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, “Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”

Wartawan itu berkata: “Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , “Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. “Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ‘umrah ?

Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, “Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, “Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, “Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawab bertanya kembali, “Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, “Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : “Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

“Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

“Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : “Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ‘Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, “Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, “Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

“Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, “Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

“Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

“Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

“Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

“Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu mengumandangkan adzan.

sumber: http://www.atjehcyber.net
Catatan: Apa yang dilakukan Alexander Pertz atau Muhammad Abdullah, belajar agama melalui buku, memang bagus. Karena kondisinya memang demikian, yakni ketiadaan pendidik muslim di lingkungannya. Tapi secara umum ada hal yang harus diketahui bahwa belajar agama harus dengan guru, buku hanya digunakan untuk pelengkap.
Read more: http://www.atjehcyber.net/2012/07/alexander-pertz-kisah-bocah-amerika.html#ixzz2QM8r6gX4

Sabtu, 02 Juli 2011

PENDEKAR MUDA


PENDEKAR MUDA

“yoyoyo.. bangun bangun bangun! Dalam hitungan kesepuluh semua harus di lapangan dan menggunakan atribut silat lengkap! Satu… dua.. tiga…”
“Afra! Cepat bangun!” “em e e e ya!” “cepat raa!” “ia ia”, Aini membangunkan Afra dari tidurnya, Afra masih sangat mengantuk, karena tidur terlalu lama semalam. Sementara korlap terus saja menghitung dan memberi peringatan kepada semua peserta agar segera berbaris di lapangan. “Lima… ayo cepat-cepat!..” ketika hitungan keenam Afra dan Aini sudah berada di lapangan dan sudah menggunakan atribut lengkap, untungnya mereka tidak mengganti seragam mereka dengan baju tidur semalam jadi tidak perlu takut dihukum. Korlap masih saja terus menghitung, “dalam hitungan kesepuluh semua sudah harus di lapangan dan menggunakan atribut lengkap, ayo cepat!”, Afra benar-benar takut mendengar instruksi korlap, entah itu tegas atau kejam, pikirnya. “sepuluh.! Gak ada lagi yang boleh masuk barisan, yang telat ayo cepat ke depan!”, begitu seterusnya kata-kata itu diucapkan korlap, hingga satu persatu teman-temannya yang terlambat dan tidak menggunakan atribut lengkap berbaris di depan barisannya. “cepat dek!” korlap terus saja tak henti-hentinya ngoceh, Afra jadi semakin takut dan gemetar, terlebih karena angin sangat kencang, sementara Afra tidak menggunakan jaket.
“Kalian semua, mana perlengkapan kalian dek?”
“masih di camp kak!”
“kenapa gak dipake??? Sekarang semua berbaris tiga berbanjar, cepat dek! Lelet kali! Semuanya.. siaaap graak! Hadap serong kanan graak! Kalian tau dek maksudnya apa??”. (semua peserta hanya diam) “jawab dek! Budge kalian ya?”, “nggak kak!”, “kalo nggak kalian tau kana pa maksud kakak?”, “tau kak!”, “apa?” “ambil sikap kak!” “ya, sekarang semua ambil sikap 10 kali dan sit up 10 kali, paham dek?!” “paham kak!”. Korlap masih saja berteriak-teriak dan terus memberi sanksi kepada peserta yang telat serta tidak menggunakan atribut lengkap.
“yang kompak dek! Semua ngitung! Mulai! Satu.. dua… tiga…” teriak mereka serentak.
Sementara yang lain dihukum, Afra dan teman-teman putra putrid yang berjumlah ±85 orang disuruh lari-lari kecil agar suhu tubuh mereka panas, dan tidak kedinginan. “ayo semuanya loncat-loncat dek!” “ya kak!” “sekarang kusuk-kusuk tangannya sampe hangat!”
Korlap terus saja memberi instruksi kepada semua peserta yang tidak telat, hingga rasa dingin yang mereka rasakan hilang.
“sekarang semuanya tutup mata dan gak ada yang bicara. Paham dek!”
“paham kak!”
Satu persatu peserta di bawa ke sebuah tempat dan disana mereka diperbolehkan membuka mata. “dek, sekarang adek jalan dari sini sampai kesana, disana nanti ada tempat-tempat yang harus adek singgahin”. Panitia memberi instruksi itu kepada Afra, Afra semakin takut dan gemetar, tetapi kakak panitia berusaha menenangkan Afra sambil berkata, “adek gak usah takut, adek jalan aja!” “gelap kak!” ucap Afra semakin takut, “adek bisa baca ayat kursi kan? Baca aja itu dek dan lari kesana ya? Ayo mulai lari! Cepat dek!”
Afra terus saja berlari dan mulutnya pun komat-kamit membaca ayat-ayat perlindungan. Di tengah perjalanan Afra terkejut!
“PESILAAAAT!”
Afra semakin takut, bingung mencari-cari asal suara, sesaat kemudian suara itu kembali terdengar, “PESILAAT! Pesilat, pendekar muda tetap semangat”, Afra langsung mengarah ke sumber suara dan dia kembali terkejut ketika seorang panitia berkata, “Ngapain disitu dek? Kamu budge ya? Kamu gak dengar saya teriak-teriak dari tadi disini?” Afra bungkam, tapi orang itu tiba mengatakan, “Karna kamu gak dengar instruksi saya, sekarang kamu ambil sikap dan sit up 20 kali”. Afra mengikuti instruksi itu, kemudian berteriak setelah selesai, “Udah kak!”, “sekarang kamu bangun dan lari ke atas, kalo kamu dengar kata PESILAT, kamu harus jawab ya! Paham?” “paham kak!” “sekarang lari ke atas cepat!” “makasih kak!” (sambil memberi salam IPSI kepada kakak itu yang tergabung menjadi anggota korlap (Koordinator lapangan).
Afra melalui posko-posko dengan lancer, begitupun yang lain. Tapi ketika sampai ke posko terakhir (4) Afra dan seorang teman laki-laki yang ada di belakangnya disuruh merayap di atas aspal.
Afra pun harus mengikuti instruksi itu karena mengingat pasal 1 dan 2 : “panitia gak pernah salah. Kalau panitia salah, kembali ke pasal 1”. Afra terus merayap hingga siku dan lututnya terluka. Afra dan teman yang di belakangnya merayap kurang lebih 5 meter dari posko ke (3). Sesampainya disana, “bangun dek! Sekarang abil sabubnya, silahkan balik badan!”, panitia mengikatkan sabob ke mata Afra, “dah kuat dek?” “udah kak!” “sekarang ikut kakak!”. Afra bingung dengan langkahnya, entah kemana panitia itu membawanya, dia dan teman-temannya hanya disuruh diam di tempat.
Ketika itu Afra sempat memikirkan temannya, Aini, dari tadi ia tidak mendengar sepatah kata pun dari Aini. Mereka terpisah, tetapi suasana semakin terasa senyap tak ada suara, langkah kaki ataupun instruksi yang meledak-ledak. Semua benar-benar senyap. Dan Afra anak bungsu yang berusia 16 tahun ini kembali ketakutan, terlebih karena matanya ditutup, membuat rasa takutnya semakin menjadi-jadi, karena Afra sangat takut kegelapan dan susah berbafas kalau sedang berada di kegelapan. Mulutnya mulai komat kamit membaca ayat, otaknya yang suka berimajinasi dan berhalusinasi mulai memikirkan sesuatu yang aneh dan menyeramkan. Mulutnya terus komat kamit berusaha mengendalikan fikirannya hingga akhirnya ia mulai tenang ketika mendengar kumandang adzan subuh pertama, “Ya Allah, Alhamdulillah..” gumamnya dalam hati. Tanpa sadar Afra menangis memikirkan betapa bodohnya dia yang harus ketakutan, sementara selama ini ia sibuk mengurus urusan dunianya dan tidak terlalu memikirkan akhiratnya, sesaat tadi ia benar-benar merasa kesepian, seperti berada dalam liang lahat. Dia terus saja menangis dan beristighfar untuk mengendalikan dirinya.
Korlap kembali memberi instruksi dan berkata: “kalian semua dengar adzan dek?” “dengar kak!” jawab mereka serempak. Afra kembali menangis, karena menyadari ter nyata dia tidak sedang sendiri di tempat ini. “kalo kalian dengar, gunakan mata hati kalian, dari mana arah suara adzan itu dan menghadaplah kesana! Ingat, semua harus focus, jangan biarkan fikiran kosong. paham dek?” “paham kak!” jawab mereka semangat.
Kemudian suasana kembali senyap. Tapi Afra sudah lebih tenang dan terus mendengarkan suara adzan dengan sungguh hingga selesai dan membaca do’a setelah adzan. Korlap kembali bersuara serta memberikan siraman rohani/renungan suci kepada semua peserta, sehingga membuat mereka menangis, bahkan sampai ada yang hilang control. Hanya Afra dan teman laki-lakinya dari perguruan Mulia Husada Bener Meriah yang tidak menangis, karena kalau mereka menangis, bisa hilang kesadaran dan lupa pada dirinya sendiri, siapa namanya, siapa keluarganya dan lain sebagainya. Afra memang menangis tetapi dia berusaha menetralkan suasana hatinya hingga ia tidak kehilangan control. Ternyata di ujung sana Aini sudah menangis berderu-deru, bukan karena memikirkan dosanya, tetapi karena mengkhawatirkan Afra, dulu ia pernah melihat Afra sampai sakit dan lupa diri, ia benar-benar khawatir pada temannya itu, karena baginya, Afra ibaratkan seorang adik yang harus dijaga olehnya.
Adzan kedua pun sudah kembali terdengar, sementara Aini masih terus menangis, ia semakin khawatir ketika mendengar ada yang kesurupan di sudut sana, Aini terus berdo’a dan berharap semoga itu bukan Afra. Akhirnya renungan suci selesai. Semua peserta dipersilahkan membuka ikatan matanya dan disuruh berkenalan dengan teman yang berada di samping kanan, kiri, depan serta belakang.
“Semuanya boleh duduk dek dan silahkan berkenalan”
Afra mulai berjabat tangan dengan teman di kanan kirinya tanpa melupakan ada hijab di anAfra mereka, Afra menggunakan sabob untuk melapisi tangannya berjabat tangan.
“Afra..” ucapnya kepada teman di kanannya, “dari perguruan Tunas NusanAfra Takengon”.
“Hendra, dari Wali Suci Jagong”
“Afra, dari Tunas NusanAfra” kepada temannya yang dikiri.
“Zakaria, dari Tapak Suci”, jawab laki-laki itu,
Dan begitu seterusnya perkenalannya dengan teman depan dan belakangnya yang semua adalah laki-laki.
Hari semakin terang, semua peserta sudah diizinkan kembali ke camp masing-masing, tetapi tetap saja harus dalam keadaan berbaris dan tak lepas dari suara lantang korlap, “Baris semua dek! Sebelum balik ke camp, kita harus pastikan semua lengkap dan pas 108 orang, sekarang mulai berhitung dari kanan dek!”, “satu!” ucap Afra lantang, dari awal Afra selalu berada di barisan pertama, karena Afra adalah peserta yang paling pendek untuk bagian putrid. Setelah semua selesai berhitung dan jumlahnya pas. Afra dan teman-temannya berlari untuk istirahat di camp, ada yang bertugas membersihkan tenda dan ada yang masak, sementara yang laki-laki shalat subuh berjama’ah. Begitupun Afra, pagi ini dia tidak mendapat tugas apa pun, bagiannya sudah kemarin sore, maka Afra, Aini dan beberapa teman-temannya dari perguruan lain pergi ke Mushola untuk shalat subuh.
Selesai shalat, Afra dan yang lain mencuri waktu untuk tidur sebentar karena meraka benar-benar mengantuk gara-gara mengikuti serangkaian kegiatan api unggun semalam. Agaknya mereka hanya bisa istirahat sebentar tadi malam, karena sebelum adzan pertama sudah dibangunkan dan hari masih sangat gelap. Tapi tanpa terasa, terbersit rasa bahagia di hati Afra, karena akhirnya dia bisa juga melihat wajah Aini yang dari tadi terus mengkhawatirkan dirinya.
Aini : ra, tadi nangis gak?
Afra : nangis, tapi gak parah kali, kalau Aini?
Darsih : kalau dia bukan pun nangis lagi namanya tu ra, lihat aja matanya udah kembung gitu!
Ummik : iya tu, aku aja sampe pusing
Darsih : tapi heran, Afra kok bisa gak nangis?
Afra : emang Afra gak bisa nangis
Aini : kalau Afra nangis, dia bisa gak bangun-bangun sampe besok sih!
Ummik : apa iya? Masa’ bisa gitu?
Afra hanya tersenyum dan takn menjawab pertanyaan ummik teman barunya dari perguruan Wali Suci Jagong yang kebetulan orang jawa, begitupun Darsih.
Afra : tapi, semoga gak ada lagi penyiksaan kayak gini. Lihat ni, apa siku Afra jadi luka tadi gara-gara merayap.
Aini : neh, aku ni lihat jek, biru langsung. Kaos ku pun sobek jadinya.
Dewi : kak, kenapa kakak berdua pake kaos kaki?
Afra tertawa mendengarnya dan menjawab: “karena kaki itu bagian dari aurat perempuan dek.”
Dewi : ijoh, alem di kam kak geh?
Afra : wih.. Alhamdulillah.. adik pun harus tau tentang aurat dek..
Dewi : ya kak,
Aini pun ikut tertawa melihat ekspresi wajah Afra.
Ketika mereka sibuk berbincang-bincang, teman-teman petugas masak pagi ini jauh lebih sibuk, terutama yang dari perguruan Afra. Mereka kehabisan minyak lampu dan jadinya gak bisa masak. Tapi, Afra di kreatif gak khawatir. Ketika Afra dan Aini datang, mereka langsung memerintahkan ketua kelompoknya mencari batu besar, dan dalam sekejap semua dapat ditemukan, karena tempat yang mereka tempati bernama Atu Tamun (Batu Bertumpuk), jadi bisa dengan mudah mendapatkan batu-batu besar itu,, he.. Aini juga memerintahkan anak laki-laki yang lain mencari ranting-ranting kayu kering. Sementara, Afra mulai menyusun batu itu seperti yang pernah diajarkan ibunya waktu kecil dan meminta sandal karet bekas (swallow) ke kerambah di dekat mereka, kemudian membakarnya hingga akhirnya mereka kembali bisa masak.
Tetapi, penderitaan masih belum berakhir, setalah semua selesai memasak korlap memberi instruksi kepada semua peserta untuk membawa makanannya ke lapangan serta membentuk lingkaran besar.
“dek, gak boleh ada yang makan duluan! Sekarang kakak mau nanyak, mau makan pake tangan atau sendok? Yang mau pake sendok tunjuk langit, satu, dua, tiga, lima, dua puluh…” hitung korlap ringkas. “yang pake tangan!? 1, 2, 3, 4, 11, 80.. semuanya! Nah, dek, karena kebanyakan yang mau pake tangan, jadi semua harus pake tangan, setuju?” “setuju kak!” “ada yang gak setujua? Kalo ada gak setuju silahkan keluar dari lingkaran!”. Tak ada satu pun yang mau bangun, karena semua tentu sangat lapar, karena dari tadi belum sempat menyentuh makanan apapun.
“satu orang ayo pimpin do’a!” ucap korlap lantang.
“yang mimpin do’a kakak kasih hadiah” lanjutnya.
Mendengar iming-iming itu wahyu seorang siswa SMA dari perguruan Wali Suci bangun dan memimpin do’a makan. Setelah selesai salah seorang teman wahyu berteriak, “hadiahnya kak??!” “o iya, kakak lupa” jawab korlap. “em, gak ke udah kakak kasih tadi dek? Ya kan wahyu?”. Wahyu hanya bungkam.
“tadi kan udah kakak kasih hadiahnya pembesar suara?”
Wahyu masih saja belum paham, sementara peserta yang lain sudah tertawa terbahak-bahak mendengar itu semua.
“em! Tenang.. tenang.. teman-teman semua, bukan hadiahnya yang aku pengen, karena gak pake alat itu pun suaraku udah besar. Yang penting itu hadiah pahala dari Allah.” Ujar wahyu bersahaja.
Korlap dan yang lain berseru dan bertepuk tangan.
“ya ya ya, udah..udah.. jadi dek, sebelum kita makan, panitia punya permainan. Permainannya: setiap satu suap piringnya digeser ke kanan, paham dek?” “paham kak!” “ada yang gak setuju dek?” semua menjawab serempak “enggaaak kak!” “mantap!” lanjut korlap. “kita mulai ya dek. Dalam hitungan ketiga ambil satu suap lalu geser sampe semua habis ya dek?” “ya kak!” “siap?” “siap kak!” “satu… dua… tiga!”
Satu suap dek, geser!
Dua suap dek, geser!
3 suap dek, geser!
Begitu seterusnya sampai selesai, tapi, bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, banyak di anAfra teman-teman yang membuat makanan asal-asalan. Ada yang nasinya mentah, sayurnya mentah, bahkan yang lebih parahnya, menu makanan mentah itu berada dalam piring yang paling besar yang sudah sampai 5 kali keliling pun belum juga habis.
Tapi akhirnya penderitaan itu selesai dan timbul satu penderitaan yang lebih besar lagi. Ya, itu, berenang di dalam danau yang cukup dalam, bagi sebagian peserta ini mudah, tetapi tidak untuk Afra, karena Afra tidak bisa berenang. Bisa sich, tapi Afra tidak bisa berenang sejauh dan sedalam itu. Jantung Afra sudah mulai berdetak kencang, sangat kencang hingga tak terkontrol, rasanya Afra ingin lari dari sana, tapi apa boleh buat, ia dan yang lain sudah janji tadi pagi akan mencintai tanah air dan mengiyakan kata Pembina perguruan, yaitu :
“lautan akan ku sebrangi,
Gunung akan kudaki,
Tanah akan kucintai,
Dan lingkungan akan kulindungi.”
Sehingga mereka harus berenang diperairan yang dalam, mendaki gunung untuk menanam pohon, mencium tanah untuk bukti cinta dan mengutip sampah untuk melindungi lingkungan.
Tak terasa dari berenang di pagi buta hingga berjemur menanam pohon di bawah terik matahari, jam akhirnya menunjukkan pukul 12:30, semua peserta diperintahkan untuk istirahat dan shalat. Setelah itu diperintahkan membereskan barang untuk bersiap-siap pulang.
Setelah semua selesai, peserta dibariskan lagi di lapangan untuk mengikuti upacara penutupan perkemahan pemuda pencak silat Indonesia, yang diberik yel-yel. PESILAT! Pendekar muda tetap semangat!
Hari ini acara penutupan berjalan dengan haru dan keceriaan, haru ketika ketua umum mengatakan rasa bangganya kepada semua calon pesilat pendekar muda Indonesia dan ceria ketika tiba waktu salam-salaman yang diiringi dengan tingkah kocak pesilat putra.
Di dalam hati Afra sangat senang bisa mengikuti acara ini, karena ia bisa menjadi berani dan semangat pendekar mudanya semakin berapi-api karena ia benar-benar bisa menjadi pesilat nasional seperti kakak-kakak letingnya. Ia benar-benar ingin menjadi PENDEKAR MUDA INDONESIA. Berkorban demi Negara yang tercinta, semangat! Maju terus pencak silat Indonesia, maju pendekar muda! (soraknya dalam hati).
Kegiatan perkemahan ini pun diakhiri dengan tos bersama diselingi sorakan penuh semangat dari semua perguruan yang mengikuti acara ini dalam rangka meningkatkan silaturrahmi antar pesilat Indonesia.
BANGKIT PERSILATAN INDONESIA! HAAAAaaaaTT!
Ketika acara usai, Afra teringat dengan kisah sebelum berangkat ke lokasi yang penuh cobaan. Afra dipercayakan membawa kompor dan dandang yang seharusnya di antar jam 11:30 serta mereka menyusul jam 14:30 tetapi tiba-tiba saja Pembina Afra mengatakan semua pesilat harus ada di lokasi tepat jam 12:00 itu semua membuat Afra kesal, bukan karena barang-barangnya yang belum siap, karena Afra sudah membereskannya dari kemarin, tetapi Aini teman satu sekolahnya belum belanja peralatan-peralatan yang harus dibawa. Tapi Afra tentu ingin on time, begitupun Aini. Akhirnya, tanpa pikir panjang, mereka langsung pulang dan mengambil barang ke rumah masing-masing, kemudian janjian ketemu di pasar untuk membeli semua peralatan. Selesainya langsung ke lokasi bersama teman-teman Tunas NusanAfra yang berjumlah 16 orang.
Tetapi, karena acara perkemahan sudah usai, rasanya tak perlu lagi mengingat kejadian buruk itu, termasuk ketika mereka harus lari di atas batu kerikil untuk memindahkan alat masak ke bawah dekat dengan danau. Ughh, sangat mengesalkan mengingatnya.
Semua peserta sudah mulai pulang dan berlalu dari lokasi kegiatan, begitupun dengan Afra dan teman-teman Tunas, yang memilih langsung pulang karena harus ke sekolah lagi besok, di jalan mereka bersorak,
PESILAT! PENDEKAR MUDA TETAP SEMANGAT! YOOOO….
BY: Cahaya, Takengon

Kamis, 16 Juni 2011

Journey to Tebing Tinggi City Part 1



JOURNEY TO TEBING TINGGI CITY
2011, feb 28th
Pagi ini rencana berangkat ke Kota Tebing Tinggi, tapi gak jadi karena ternyata hari ini pelepasan secara resmi siswa praktek oleh Kepala SMK Negeri 3 Takengon. Aku mewakili jurusan Teknik Gambar Bangunan menerima ID-Card dan jurnal secara simbolis dari Kepala Sekolah. Kemudian, sedikit penjelasan tentang modul dari panitian PSG.
Perlu teman-teman ketahui PSG itu Pendidikan Sistem Ganda atau kami sering menyebutnya dengan Prakerin yaitu Praktek Kerja Industri.
Hari ini –senin- jadi berangkat ke Tebing Tinggi, tapi malam. Ya sekitar jam 9 malam kami berangkat dari rumah pak Sunardi menggunakan Toyota Avanza warna silver. Next, canda ria menghiasi keberangkatan kami. Melewati gunung dan jalan yang berkelok-kelok, dalam hati aku berseru “Selamat tinggal Kota Takengon! Semoga kita bertemu lagi!”. Begitulah, kami meninggalkan orangtua kami, saudara, kampung halaman kami, teman-teman sekolah, teman-teman organisasi, dan para guru serta kakak-kakak seperjuangan.
Pengalaman perjalanan agak sedikit jorok, maklumlah –cerita muntah!- kadang terjadi dalam perjalanan.
Kami berhenti di beberapa tempat sekedar mengambil nafas segar. Yang aku ingat di Aceh Timur, tepatnya di sebuah masjid, aneh! Kamar kecilnya banyak, tapi airnya susah. Ya sudahlah tak mengapa, di luar ada tempat wudhu’ untuk cuci muka dan berwudhu’ bagi yang berhajat tentunya. Lanjut deh!
2011, march 1st
Malam itu, oh bukan, hampir subuh di dekat perbatasan Aceh-Sumatera Utara mobil kami ditilang –wuih, UUD nih!- alasannya, kelebihan muatanlah, inilah itulah, yang akhirnya menggugurkan uang dari kantong pak Nardi.
Di salah satu kabupaten dalam Propinsi Sumatera Utara –lupa kabupaten apa- tepat di deoan Kantor Kepolisiannya ada lagi yang menilang kami. Tapi teman-teman, supir kami langsung tancap gas, tak peduli lagi.
Singkat cerita, sampailah kami di rumah pak Sunardi sekitar jam 7 pagi, desa Bandar Khalifah, kabupaten Deli Serdang, Medan. Kami istirahat beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Tebing Tinggi.
Ba’da ashar kami melanjutkan perjalanan ke Kota Tebing Tinggi!
Lihat kanan kiri sepanjang perjalanan, kadang pandangan teduh melihat alam, namun tak jarang miris melihat orang-orang lalu lalang. Kurang lebih waktu Isya kami sampai di Base camp DMStudio Consultant. Langsung saja si empu rumah mengajak kami untuk makan malam. Sambil makan bicara tentang ini dan itu, sebagai pengantar selamat datang kepada kami.
Sehabis makan, ada sedikit Open Ceremony yang diadakan perusahaan itu. Ya, semacam ajang perkenalan antara kami siswa PSG dengan Crew CV.DMStudio Consultant. Disitu kami diperkenalkan satu persatu. Ada bapak Ansoriawan selaku Pimpinan CV tersebut, bang Dede yang konon jadi pembimbing kami, mas Sam sang Designer, bang Dian yang ahli lapangan, Bang Iman yang dikenalkan kepada kami sebagai penghuni lab, dan bang Sidiq sebagai teknisi computer.
Kami juga memperkenalkan diri, saya Anwar Suradi, Edwin Novpriandi, Maulana Maghribi, dan Alpandi Fitri, eh cup, Fitrah maksudnya. . Beserta kami ada pak Sunardi, pembimbing kami di sekolah.
Udah deh, panjang diskusinya, lewat ya. Kami mandi malem-malem, yah maklum, baru sampe trus suhu panas lagi. Wah, gerah pokoknya. Selanjutnya, itu agenda pribadi.
2011, march 2nd
Pukul 4 pagi, ane bangun langsung ke UGD terdekat (kamar mandi maksud saya). Sepulangnya bang Dede nyamperin, “bangunin kawan-kawannya ya, ntar suruh siap-siap, jam 6 kita berangkat!”, wow, baru bangun dan dapat mandate gitu. Langsung deh ane bangunin kawan-kawan tuk shalat shubuh dan siap-siap berangkat. Suasana agak tegang, kami baru sampe paginya langsung turun ke lapangan. Breefing sebentar, bang Dede selaku coordinator menjelaskan teknis pekerjaan. Langsung dibentuk tim untuk menempati tiap POS yang sudah ditentukan.
Cepat-cepat! He,, ada yang salah masuk mobil yang bukan timnya. Gak sempat pake sepatu, wah-wah seru deh pokoknya. Sedikitpun tak kenal masih dengan Tebing Tinggi waktu itu, salam pertama kami adalah bau karet dari pabrik karet terdekat yang tidak jauh dari base camp.
Saya satu tim dengan bang Sidiq sebagai petugas Pos 2, sementara Pos 1 ditempati Maulana dan bang Iman. Pos yang lainnya juga telah ditempati oleh petugas yang bersangkutan. Kami bertugas sebagai Surveyor OD (Origin-Destination) yaitu survey dengan tugas mencatat plat nomor kendaraan yang lewat dihadapan surveyor, tujuannya untuk mengetahui asal dan tujuan kendaraan tersebut.
23 NAC, 10 DE, 12 LT, 44 NA, 31 SE, …… begitulah, setiap kendaraan ditulis platnya, ada sih yang terlewat, kebanyakan Sepeda Motor. Kami bergantian mencatat dan membaca. Nomor-nomor ini dimasukkan ke kolom sesuai dengan jenis kendaraannya. Mobil ke kolom mobil, truk ke kolom truk, dan lain-lain juga demikian.
Pos lainnya ada yang mempunyai tugas yang sama dengan kami, ada juga yang berbeda, yaitu survey LHR (survey menghitung volume kendaraan yang melewati jalan yang dimaksud per 15 menit, dengan melihat arah kendaraan tersebut). Sepeda motor 4, Bus 1, mobil pribadi 2, trailer 1, dan seterusnya sampai sepeda dan lain-lain. Kami juga mencatat per 15 menit tapi Cuma pas terang hari. Sedangkan survey LHR mulai pukul 6 pagi 2 maret sampai 6 pagi esok harinya.
Pulang pas dzuhur untuk ISHOMA (Istirahat Shalat Makan) lanjut setelahnya saya gak lagi survey OD tapi pindah tempat dan tugas survey LHR di Sp. Medan.
Kemudian ganti lagi survey OD tapi lokasinya masih di Sp. Medan dengan Alpandi dengan arah kendaraan yang berbeda. Sampai waktu senja dan dijemput pulang.
Malamnya, selepas makan dan keperluan ini itu, terjun lagi menggantikan petugas LHR di Sp. Medan, saya dengan Bang Dede, sambil survey dapat wejangan. Sudahlah, sekitar hampir tengah malam, digantikan dengan petugas lainnya. Dan saya pulang ke base camp untum istirahat dan keperluan pribadi.
Sampai disini dulu ya teman-teman, Journey to Tebing Tinggi Part 1 telah selesai. Kita berjumpa lagi di seri yang lain. Tentunya dengan cerita yang lain pula. Saya ucapkan terimakasih telah membaca cerita ini. Salam manis. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons