Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

TPC Go Green!


TPC Go Green!
Setelah lama, baru kali ini Ade bermain lagi di Taman Kota. Sedang asyik bermain Ade melihat dua anak sedang memungut sampah.
“Eh, itu kan Nazhif dan Thahir. Kok mereka mungut sampah? Memangnya mereka pemulung ya?” kata Ade memperhatikan apa yang mereka kerjakan.
“Apa yang berkilau di baju mereka itu? Samperin ah.” Katanya lagi. Tapi, belum sempat melangkah jauh kedua anak tadi sudah hilang di tengah keramaian.
Ugh ... biar di sekolah saja kutanyai mereka.” Geramnya kesal.
Esoknya di sekolah.
“Hai Nazhif. Maaf, jangan tersinggung ya. Kamu pemulung?” tanya Ade agak janggal. Nazhif hanya diam.
“Aduh, maaf ya Zhif. Aku ... Cuma nanya aja,” Ade jadi salah tingkah.
Nazhif menoleh kemudian tersenyum, “Gak apa-apa kok. Aku memang pemulung, De,”
“Hah, beneran Zhif?”
“Iya, bener.” Nazhif mengangguk yakin.
Dari jauh tampak Thahir berlari mendekat. Di tangannya ada secarik kertas. Dia tiba dengan nafas tak teratur. Thahir agak terkejut dengan keberadaan Ade.
“Eh Ade. Apa kabar?” tanyanya basa basi.
“Alhamdulillah, baik-baik saja. Tapi ... maaf ya Thahir. Apa benar kalian berdua pemulung?” Ade kembali bertanya sembari mengerutkan muka.
Thahir tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah lencana dari sakunya.
“Yup. Kami berdua adalah pemulung. Tepatnya Pemulung Cerdas! Nih.” Thahir menyodorkan lencananya kepada Ade.
“Wah, indah sekali. Hah, TPC Go Green? Maksudnya?” Ade masih belum mengerti.
Serentak Nazhif dan Thahir tertawa.
“Ade.. Ade.. Kita bukan pemulung seperti yang kamu sangka. Aku dan Thahir adalah anggota TPC alias Tim Pemulung Cerdas. Klub pecinta alam di sekolah kita. Kami mengumpulkan sampah dan menyisihkan yang masih bisa didaur ulang.” Terang Nazhif.
“Dan ini rancangan program kami. Beberapa solusi yang berkaitan dengan sampah. Di antaranya pemisahan sampah organik dan non-organik lalu daur ulang sampah.” Thahir pun menunjukkan kertas tadi.
“Jadwal sekolah kalian nggak terganggu nanti?” Ade menyelidik.
“Nggak, kok. Kita aksi ketika libur saja. Kalau pekerjaan kecil bisa sepulang sekolah. Yang pastinya nggak mengganggu pelajaran.” Thahir coba meyakinkan Ade.
“Dan sebagai pengenal kita pakai lencana ini.” Nazhif menambahkan.
“Jadi, yang kulihat berkilau kemarin lencana ini ya?” Ade penasaran.
“Di mana kamu lihat?”
“Di Taman Kota.”
“Oh, itu kita sedang menjalankan misi.” Kata Nazhif kemudian.
“Kalau begitu aku gabung juga.”
Welcome!”
Nazhif dan Thahir saling tos. Mereka tertawa bersama. Lalu,
“TPC beraksi!”
Liburan-liburan berikutnya sebagian mereka isi dengan kegiatan TPC. Mereka jadi semakin akrab. Semakin hari semakin banyak pula karya-karya yang mereka hasilkan. Sandal dari perca, tempat pensil dari perca dan kardus, tempat kue dan pot bunga hias dari kertas, kantong tempat remote dan masih banyak lagi. Di sekolah pun mereka selalu berada di peringkat lima besar.
“Besar nanti mau jadi apa ya?” tanya Thahir suatu hari ketika mereka berteduh di bawah pohon.
“Aku ... Pengusaha Tekstil!” teriak Nazhif.
“Aku ... Tukang sampah aja!” teriak Ade menyahut.
“Hahahaha ....” Mereka merasa sangat bahagia.

September 2014

Sabtu, 06 September 2014

Sangkan Kemang


Dulu aku memang sedikit penakut. Sedikit saja ada bayangan putih langsung dikira hantu. Ditambah lagi dengan tontonan film hantu masa kecil. Di antara sekian banyak peristiwa menakutkan yang kualami ada saat ibuku bercerita.
"Beberapa tahun yang lalu kami mengenal 'kemang'." Ibu memulai ceritanya.
"Kemang itu apa Mak?" kami penasaran.
"Kemang itu suka menculik orang, terutama anak-anak!"
Kami bergidik ketakukan.
"Jadi, di kampung pernah ada kejadian. Seorang anak tetangga main sendirian di luar rumah pas waktu magrib. Padahal orangtuanya sudah menyuruh anak ini untuk masuk. Tapi dia tidak menghiraukannya. Orangtuanya menunggu hingga hari sudah gelap, menjelang Isya. Mereka mulai khawatir. Lalu mereka memanggil-manggil dan mencari kesana kemari. Mungkin saja dia ke rumah kawannya. Eh, ternyata tidak ada. Maka seluruh warga kampung gempar.
"Nampaknya dia sudah diculik Kemang!" Komentar seorang warga.
"Ayo kita cari dia sampai dapat!" timpal yang lain.
"Ayo!!" semua warga setuju.
Pencarianpun dimulai. Dengan membawa pentungan dan obor warga mulai mencari sambil memanggil-manggil anak tersebut. Begitulah caranya mencari orang yang diculik Kemang.
Hampir dua jam mereka mencari tapi belum ketemu juga. Mereka menyusuri tepi hutan. Memeriksa pohon-pohon besar. Siapa tahu Kemang membawanya naik kesana.
Akhirnya setelah berlalu beberapa jam, dan wargapun telah masuk agak jauh ke dalam hutan, anak itu ditemukan sedang tertidur di atas sebuah dahan yang sangat besar. Anak itupun dibawa pulang, sedang dia dalam kondisi lemas." Ibu mengakhiri ceritanya.
"Ayo kencing dulu baru tidur." pintanya kemudian.
"Hii...takut!!" kata adikku.
"Ah kalian ini. Minta diceritain eh malah ketakutan. Ayo cepat!"
Begitulah cerita itu sampai sekarang masih populer di kampung kami. Namun, aku sudah tak percaya lagi hal begituan.
---------
Terpilih dalam kuis cerita horor oleh Nabila Anwar di Grup FB PBA. Dapat hadiah novel 'Peti Misterius'.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Masih Bisa Bersyukur

    Aku lapar. Sejak pagi tadi perutku kosong. Hanya air yang sempat masuk. Itupun air di botol yang kutemukan di tepi jalan, kemarin.
    Biarlah, sabar. Ini sudah biasa. Setidaknya sejak sadar bahwa aku masih hidup.
   Sehari-hari aku hanya menyemir sepatu. Hasilnya hanya cukup untuk makan siang, syukur-syukur kalau berlebih, bisa dapat makan malam. Seperti hari ini, kutapaki jalanan kota, berharap ada yang mau berbaik hati.
Tap!
    Aku berhenti. Di depanku ada pemandangan luar biasa, belum pernah kulihat. Seorang ibu sedang membawa sepiring nasi; anaknya sedang menangis. Kenapa dia menangis? Ya Allah, adakah orang yang menangis karena disuruh makan? Sementara aku bisa makan saja sudah sangat beruntung.
plang ting tueng!!
    Anak itu mengibaskan tangan ibunya hingga piring terlepar. Lalu, di ibu membawa anaknya masuk. Mereka meninggalkan makanan yang telah tumpah tadi.
Slrups!! Air liurku keluar. Sepotong daging ayam dan sepotong tempe gorong mengundang seleraku. Perutku berontak.
Meauw.. Aduh, ada kucing!
Aku berpacu dengannya, dengan cepat aku mengambil makanan itu. Tapi, tak sampai hati melihat kucing yang terus mengeong itu. Akupun memberikan tempe itu padanya. Senang rasanya bisa berbagi. Aku tersenyum bahagia, Allah masih memberiku kehidupan.

Darussalam, Agustus 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

KISAH-KISAH MENAKJUBKAN


Aku baru saja berpisah dengan si Loreng. Itu kucing kesayanganku. Malang nian nasibnya, tertabrak mobil siang tadi. Kini, hatiku bersedih dan cuacanya mendung. Aku menangis.
“Hasan, ada apa?”
“Si Loreng, Ma.”
“Sudah, relakan saja. Semoga nanti ada gantinya.”
Mama lalu membawaku ke dalam. Mama membuka mushaf dengan sampul  Syaamil Qur’an.
“Kita baca Surat Yusuf yuk!”

Awalnya aku kurang suka, tapi saat ibu mulai membaca akupun jadi suka. Ayat demi ayat dibacakan, ditambah dengan terjemahannya. Karena aku belum pintar bahasa Arab. Nantilah, semoga aku bisa bahasa Arab. Tentu akan lebih nikmat membaca Al-Qur’an.
“Mama, gantian dong.” Aku meraih mushaf itu dari tangan mama.

Sungguh menakjubkan cerita Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Meski saudaranya mencelakakannya, namun dia tetap sabar dan yakin akan pertolongan Allah. Ayahnya, nabi Ya’qub ‘alaihissalam, harus menerima kenyataan ini dengan hati yang sabar. Berpisah dengan anak tercinta sungguh begitu berat. Dia tahu bahwa Yusuf masih hidup, sehingga kerinduannya pun menjadikan kedua matanya buta.

Tak terasa air mataku menetes. Larut dalam kisah indah ini. Mama di sampingku juga ikut menangis. Hingga cerita sampai pada pertemuan Yusuf dengan para saudaranya di Mesir. Setelah berlalu tahun-tahun yang panjang.
“Apakah engkau Yusuf?” saudaranya keheranan, setengah tak percaya.
“Ya, aku adalah Yusuf, saudaramu.”

Sekarang, aku menangis lagi. Menangis karena haru. Aku berhasil menyelesaikan kisahnya tepat beberapa saat sebelum berbuka.
Aku merasa takjub saat sampai pada akhir surat. Yaitu pada firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” ([12]:111)

Sedihku berganti dengan pengharapan dan rasa percaya diri. Allah akan memberi ganti yang lebih baik. Biarlah si Loreng mati. Nanti ada gantinya juga.
Setiap hari aku membaca al-Qur’an, semakin bertambah cintaku padanya. Besok aku akan membaca surat al-Kahfi, ada kisah menarik juga di dalamnya. Kisah Ashabul Kahfi, Nabi Musa dan Khidir, dan kisah Zulqarnain. Tapi, semua kisah-kisah itu bukan buatan. Semua kisah itu adalah kisah nyata. Banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya.

Berselang dua hari, entah dari mana, seekor kucing imut datang ke rumahku. Dia menetap di sana dan menjadi kawanku. Allah memang baik. (±359 kata)

#AyoNgajiTiapHari

Jumat, 23 Mei 2014

Cerpen : Ahmad & Al-Qur'an


Ahmad & Al-Qur’an

Alkisah ada seorang anak yang bernama Ahmad. Ahmad adalah anak baik dan patuh pada orangtua. Dia juga anak yang rajin belajar dan membaca Al-Qur’an. Tapi dulu Ahmad hanya sering bermain. Jarang belajar.
“Kapan si Ahmad mulai suka belajar?” tanya bu Aisyah suatu hari. Bu Aisyah adalah guru favorit Ahmad. Bu Aisyah adalah wanita yang baik, shalehah dan cantik. Beliau selalu memberi motivasi untuk murid-muridnya. Termasuk Ahmad.
“Kok bu guru tanya begitu?” Ahmad balik bertanya. Kini Ahmad di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Dia itu bintang di kelasnya.
“Ibu mau tahu aja. Mungkin bisa diceritakan ke kawan-kawan yang lain. Biar jadi motivasi juga.” Jawab bu Aisyah sambil tersenyum tanda sayang.
Ahmad maju ke depan. Dia merapikan baju putihnya. Dia pun mulai bercerita.
“Dulu sewaktu masih kelas satu. Saya sangat malas belajar. Apalagi membaca Al-Qur’an. Ibuku selalu ngajarin saya mengaji, padahal saya gak suka.” Ahmad berhenti sejenak. Dia sedikit bergeser ke kiri.
“Saya pengen-nya main melulu. Loncat sana loncat sini. Main petak umpet dengan kawan-kawan. Hingga suatu hari ibuku berkata padaku.” Ahmad tidak melanjutkan ceritanya. Dia terlihat menunduk. Berusaha mengenang masa itu. “Hiks..hiks..” Air matanya menetes penuh haru.
“Ibuku bilang, Ahmad, kamu akan jadi orang besar nak. Orang besar itu selalu belajar. Kamu harus jadi penghafal Al-Qur’an. Biar bisa do’ain ibu.” Lanjut Ahmad sambil mengusap air matanya.
“Mulai hari itu saya menjadi rajin belajar, rajin mengaji dan membantu Ibu. Sekian dulu cerita saya kawan-kawan. Semoga bisa jadi pelajaran. Ternyata ibu kita di rumah sangat mencintai kita. Ibu kita ingin melihat anaknya sukses. Terimakasih” tutup Ahmad. Lalu dia melangkah kembali ke bangkunya.
Bu Aisyah mendekati Ahmad. Beliau mengusap kepalanya. “Terimakasih Ahmad. Ceritamu bagus! Ayo anak-anak kita bertakbir memberi semangat untuk Ahmad! Allahu Akbar!!”
“ALLAHU AKBAR!!!” teriak semua murid serempak. Membuat kelas hari itu bergetar karena gema suaranya. Teriakan yang membakar semangat siapapun yang mendengarnya.
***
Sepulang sekolah, Ahmad langsung pulang ke rumah. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum, ummi?” Ahmad memanggil ibunya. Ahmad lebih suka memanggil ibunya dengan sebutan ‘Ummi’. Ibu Ahmad adalah wanita luar biasa. Beliau sangat telaten dalam mendidik anak-anaknya.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah, anak ibu sudah pulang!” Satu kecupan hangat mendarat di dahi Ahmad. Ahmad memejamkan matanya tanda hatinya senang.
Ahmad segera membersihkan diri. Dia bersiap-siap untuk shalat dhuhur berjama’ah di masjid. Sekolah Ahmad sengaja membuat jadwal pulang sekolah lebih awal. Menyesuaikan dengan jadwal shalat. Jadi anak-anak bisa shalat tepat waktu.
Selesai berwudu’ dan memakai baju koko, Ahmad keluar rumah. Sambil melangkahi pintu dia mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” Di tengah jalan menuju masjid yang tidak terlalu jauh, Ahmad berjumpa dengan Ibrahim, teman sekelas dan teman mengajinya.
“Assalamu’alaikum Ibrahim” sapa Ahmad sambil tersenyum.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah, eh Ahmad. Mana si Yusuf?” balas Ibrahim sambil bertanya tentang Yusuf, teman dekat mereka juga.
“Gak tahu tuh, Ibrahim. Apa dia sakit? Nanti coba kita kunjungi ya.” Jawab Ahmad yang terus melangkah ke masjid.
“Iya, nanti kita pergi sama-sama ya!”
“Yups.. Udah adzan. Ayo cepat!” kata Ahmad.
Sesampainya di masjid, mereka mendapati jama’ah shalat sudah ramai. Ahmad dan Ibrahim mencari tempat kosong untuk duduk. Tapi sebelum duduk mereka shalat dulu dua raka’at. Bu guru bilang namanya shalat tahyatul masjid.
Selain Ahmad, Ibrahim dan Yusuf, banyak juga anak yang lainnya shalat di masjid. Mereka membuat shaf shalat sendiri di belakang orang dewasa. Semuanya shalat dengan tertib. Hingga shalat selesai tidak ada satu orang pun yang ribut.
Selesai shalat Ahmad dan Ibrahim pulang ke rumah masing. Mereka akan bertemu setelah makan siang untuk pergi ke rumah Yusuf.
***
Ahmad dan Ibrahim akhirnya sampai di rumah Yusuf.
“Assalamu’alaikum” ucap mereka serempak sambil mengetuk pintu.
Dari balik pintu keluar seorang wanita setengah baya. Bu Aminah namanya. Beliau adalah ibu Yusuf.
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.. Ahmad..Ibrahim.. Ayo masuk!!” jawab ibu Yusuf sambil tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.
“Yusufnya ada bu?” tanya Ahmad saat melangkah masuk ke rumah.
“Ada di dalam. Dia lagi kurang enak  badan. Yusuf!! Kawanmu datang nak!!” kata ibu Yusuf.
“Oh, Ahmad dan Ibrahim. Senang kalian mau datang kesini” kata yusuf tersenyum kecut. Dia sedang demam. Badannya panas. Dari hidung dan matanya keluar cairan.
“Semoga cepat sembuh ya Yusuf. Biar kita bisa main bersama lagi. Mengaji dan bersama lagi” kata Ibrahim menghibur Yusuf.
“Semoga cepat sembuh ya Yusuf. Shabar! Ini cuma demam kok. Insya Allah gak lama lagi sudah sembuh. Banyak minum dan makan buah ya. Kata ibuku dengan begitu bisa nurunin panas.” Kata Ahmad juga ikut menghibur.
“Aku senang sekali melihat kalian. Aku ingin cepat sembuh juga. Semoga bisa bermain lagi bersama kalian” kata Yusuf lagi sambil tersenyum.
“Baiklah Yusuf. Istirahat yang banyak ya. Jangan lupa berdo’a sama Allah. Kami pamit dulu” kata Ibrahim juga mewakili Ahmad.
“Kami pamit juga bu, Assalamu’alaikum” kata Ahmad dan Ibrahim.
***
Beberapa hari kemudian. Di halaman SD Harapan Umat terlihat anak-anak sedang bermain dengan riangnya. Di antara mereka ada Ahmad, Ibrahim dan Yusuf. Yusuf sudah sehat sekarang. Mereka bisa belajar, bermain dan mengaji bersama lagi.
Sambil duduk beristirahat. Ahmad melihat teman-temannya. Dalam hati dia berdo’a. “Ya Allah. Jadikanlah kami anak-anak yang shaleh, yang berbakti pada kedua orangtua. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama orangtua kami. Amiin”

Sabtu, 02 Juli 2011

PENDEKAR MUDA


PENDEKAR MUDA

“yoyoyo.. bangun bangun bangun! Dalam hitungan kesepuluh semua harus di lapangan dan menggunakan atribut silat lengkap! Satu… dua.. tiga…”
“Afra! Cepat bangun!” “em e e e ya!” “cepat raa!” “ia ia”, Aini membangunkan Afra dari tidurnya, Afra masih sangat mengantuk, karena tidur terlalu lama semalam. Sementara korlap terus saja menghitung dan memberi peringatan kepada semua peserta agar segera berbaris di lapangan. “Lima… ayo cepat-cepat!..” ketika hitungan keenam Afra dan Aini sudah berada di lapangan dan sudah menggunakan atribut lengkap, untungnya mereka tidak mengganti seragam mereka dengan baju tidur semalam jadi tidak perlu takut dihukum. Korlap masih saja terus menghitung, “dalam hitungan kesepuluh semua sudah harus di lapangan dan menggunakan atribut lengkap, ayo cepat!”, Afra benar-benar takut mendengar instruksi korlap, entah itu tegas atau kejam, pikirnya. “sepuluh.! Gak ada lagi yang boleh masuk barisan, yang telat ayo cepat ke depan!”, begitu seterusnya kata-kata itu diucapkan korlap, hingga satu persatu teman-temannya yang terlambat dan tidak menggunakan atribut lengkap berbaris di depan barisannya. “cepat dek!” korlap terus saja tak henti-hentinya ngoceh, Afra jadi semakin takut dan gemetar, terlebih karena angin sangat kencang, sementara Afra tidak menggunakan jaket.
“Kalian semua, mana perlengkapan kalian dek?”
“masih di camp kak!”
“kenapa gak dipake??? Sekarang semua berbaris tiga berbanjar, cepat dek! Lelet kali! Semuanya.. siaaap graak! Hadap serong kanan graak! Kalian tau dek maksudnya apa??”. (semua peserta hanya diam) “jawab dek! Budge kalian ya?”, “nggak kak!”, “kalo nggak kalian tau kana pa maksud kakak?”, “tau kak!”, “apa?” “ambil sikap kak!” “ya, sekarang semua ambil sikap 10 kali dan sit up 10 kali, paham dek?!” “paham kak!”. Korlap masih saja berteriak-teriak dan terus memberi sanksi kepada peserta yang telat serta tidak menggunakan atribut lengkap.
“yang kompak dek! Semua ngitung! Mulai! Satu.. dua… tiga…” teriak mereka serentak.
Sementara yang lain dihukum, Afra dan teman-teman putra putrid yang berjumlah ±85 orang disuruh lari-lari kecil agar suhu tubuh mereka panas, dan tidak kedinginan. “ayo semuanya loncat-loncat dek!” “ya kak!” “sekarang kusuk-kusuk tangannya sampe hangat!”
Korlap terus saja memberi instruksi kepada semua peserta yang tidak telat, hingga rasa dingin yang mereka rasakan hilang.
“sekarang semuanya tutup mata dan gak ada yang bicara. Paham dek!”
“paham kak!”
Satu persatu peserta di bawa ke sebuah tempat dan disana mereka diperbolehkan membuka mata. “dek, sekarang adek jalan dari sini sampai kesana, disana nanti ada tempat-tempat yang harus adek singgahin”. Panitia memberi instruksi itu kepada Afra, Afra semakin takut dan gemetar, tetapi kakak panitia berusaha menenangkan Afra sambil berkata, “adek gak usah takut, adek jalan aja!” “gelap kak!” ucap Afra semakin takut, “adek bisa baca ayat kursi kan? Baca aja itu dek dan lari kesana ya? Ayo mulai lari! Cepat dek!”
Afra terus saja berlari dan mulutnya pun komat-kamit membaca ayat-ayat perlindungan. Di tengah perjalanan Afra terkejut!
“PESILAAAAT!”
Afra semakin takut, bingung mencari-cari asal suara, sesaat kemudian suara itu kembali terdengar, “PESILAAT! Pesilat, pendekar muda tetap semangat”, Afra langsung mengarah ke sumber suara dan dia kembali terkejut ketika seorang panitia berkata, “Ngapain disitu dek? Kamu budge ya? Kamu gak dengar saya teriak-teriak dari tadi disini?” Afra bungkam, tapi orang itu tiba mengatakan, “Karna kamu gak dengar instruksi saya, sekarang kamu ambil sikap dan sit up 20 kali”. Afra mengikuti instruksi itu, kemudian berteriak setelah selesai, “Udah kak!”, “sekarang kamu bangun dan lari ke atas, kalo kamu dengar kata PESILAT, kamu harus jawab ya! Paham?” “paham kak!” “sekarang lari ke atas cepat!” “makasih kak!” (sambil memberi salam IPSI kepada kakak itu yang tergabung menjadi anggota korlap (Koordinator lapangan).
Afra melalui posko-posko dengan lancer, begitupun yang lain. Tapi ketika sampai ke posko terakhir (4) Afra dan seorang teman laki-laki yang ada di belakangnya disuruh merayap di atas aspal.
Afra pun harus mengikuti instruksi itu karena mengingat pasal 1 dan 2 : “panitia gak pernah salah. Kalau panitia salah, kembali ke pasal 1”. Afra terus merayap hingga siku dan lututnya terluka. Afra dan teman yang di belakangnya merayap kurang lebih 5 meter dari posko ke (3). Sesampainya disana, “bangun dek! Sekarang abil sabubnya, silahkan balik badan!”, panitia mengikatkan sabob ke mata Afra, “dah kuat dek?” “udah kak!” “sekarang ikut kakak!”. Afra bingung dengan langkahnya, entah kemana panitia itu membawanya, dia dan teman-temannya hanya disuruh diam di tempat.
Ketika itu Afra sempat memikirkan temannya, Aini, dari tadi ia tidak mendengar sepatah kata pun dari Aini. Mereka terpisah, tetapi suasana semakin terasa senyap tak ada suara, langkah kaki ataupun instruksi yang meledak-ledak. Semua benar-benar senyap. Dan Afra anak bungsu yang berusia 16 tahun ini kembali ketakutan, terlebih karena matanya ditutup, membuat rasa takutnya semakin menjadi-jadi, karena Afra sangat takut kegelapan dan susah berbafas kalau sedang berada di kegelapan. Mulutnya mulai komat kamit membaca ayat, otaknya yang suka berimajinasi dan berhalusinasi mulai memikirkan sesuatu yang aneh dan menyeramkan. Mulutnya terus komat kamit berusaha mengendalikan fikirannya hingga akhirnya ia mulai tenang ketika mendengar kumandang adzan subuh pertama, “Ya Allah, Alhamdulillah..” gumamnya dalam hati. Tanpa sadar Afra menangis memikirkan betapa bodohnya dia yang harus ketakutan, sementara selama ini ia sibuk mengurus urusan dunianya dan tidak terlalu memikirkan akhiratnya, sesaat tadi ia benar-benar merasa kesepian, seperti berada dalam liang lahat. Dia terus saja menangis dan beristighfar untuk mengendalikan dirinya.
Korlap kembali memberi instruksi dan berkata: “kalian semua dengar adzan dek?” “dengar kak!” jawab mereka serempak. Afra kembali menangis, karena menyadari ter nyata dia tidak sedang sendiri di tempat ini. “kalo kalian dengar, gunakan mata hati kalian, dari mana arah suara adzan itu dan menghadaplah kesana! Ingat, semua harus focus, jangan biarkan fikiran kosong. paham dek?” “paham kak!” jawab mereka semangat.
Kemudian suasana kembali senyap. Tapi Afra sudah lebih tenang dan terus mendengarkan suara adzan dengan sungguh hingga selesai dan membaca do’a setelah adzan. Korlap kembali bersuara serta memberikan siraman rohani/renungan suci kepada semua peserta, sehingga membuat mereka menangis, bahkan sampai ada yang hilang control. Hanya Afra dan teman laki-lakinya dari perguruan Mulia Husada Bener Meriah yang tidak menangis, karena kalau mereka menangis, bisa hilang kesadaran dan lupa pada dirinya sendiri, siapa namanya, siapa keluarganya dan lain sebagainya. Afra memang menangis tetapi dia berusaha menetralkan suasana hatinya hingga ia tidak kehilangan control. Ternyata di ujung sana Aini sudah menangis berderu-deru, bukan karena memikirkan dosanya, tetapi karena mengkhawatirkan Afra, dulu ia pernah melihat Afra sampai sakit dan lupa diri, ia benar-benar khawatir pada temannya itu, karena baginya, Afra ibaratkan seorang adik yang harus dijaga olehnya.
Adzan kedua pun sudah kembali terdengar, sementara Aini masih terus menangis, ia semakin khawatir ketika mendengar ada yang kesurupan di sudut sana, Aini terus berdo’a dan berharap semoga itu bukan Afra. Akhirnya renungan suci selesai. Semua peserta dipersilahkan membuka ikatan matanya dan disuruh berkenalan dengan teman yang berada di samping kanan, kiri, depan serta belakang.
“Semuanya boleh duduk dek dan silahkan berkenalan”
Afra mulai berjabat tangan dengan teman di kanan kirinya tanpa melupakan ada hijab di anAfra mereka, Afra menggunakan sabob untuk melapisi tangannya berjabat tangan.
“Afra..” ucapnya kepada teman di kanannya, “dari perguruan Tunas NusanAfra Takengon”.
“Hendra, dari Wali Suci Jagong”
“Afra, dari Tunas NusanAfra” kepada temannya yang dikiri.
“Zakaria, dari Tapak Suci”, jawab laki-laki itu,
Dan begitu seterusnya perkenalannya dengan teman depan dan belakangnya yang semua adalah laki-laki.
Hari semakin terang, semua peserta sudah diizinkan kembali ke camp masing-masing, tetapi tetap saja harus dalam keadaan berbaris dan tak lepas dari suara lantang korlap, “Baris semua dek! Sebelum balik ke camp, kita harus pastikan semua lengkap dan pas 108 orang, sekarang mulai berhitung dari kanan dek!”, “satu!” ucap Afra lantang, dari awal Afra selalu berada di barisan pertama, karena Afra adalah peserta yang paling pendek untuk bagian putrid. Setelah semua selesai berhitung dan jumlahnya pas. Afra dan teman-temannya berlari untuk istirahat di camp, ada yang bertugas membersihkan tenda dan ada yang masak, sementara yang laki-laki shalat subuh berjama’ah. Begitupun Afra, pagi ini dia tidak mendapat tugas apa pun, bagiannya sudah kemarin sore, maka Afra, Aini dan beberapa teman-temannya dari perguruan lain pergi ke Mushola untuk shalat subuh.
Selesai shalat, Afra dan yang lain mencuri waktu untuk tidur sebentar karena meraka benar-benar mengantuk gara-gara mengikuti serangkaian kegiatan api unggun semalam. Agaknya mereka hanya bisa istirahat sebentar tadi malam, karena sebelum adzan pertama sudah dibangunkan dan hari masih sangat gelap. Tapi tanpa terasa, terbersit rasa bahagia di hati Afra, karena akhirnya dia bisa juga melihat wajah Aini yang dari tadi terus mengkhawatirkan dirinya.
Aini : ra, tadi nangis gak?
Afra : nangis, tapi gak parah kali, kalau Aini?
Darsih : kalau dia bukan pun nangis lagi namanya tu ra, lihat aja matanya udah kembung gitu!
Ummik : iya tu, aku aja sampe pusing
Darsih : tapi heran, Afra kok bisa gak nangis?
Afra : emang Afra gak bisa nangis
Aini : kalau Afra nangis, dia bisa gak bangun-bangun sampe besok sih!
Ummik : apa iya? Masa’ bisa gitu?
Afra hanya tersenyum dan takn menjawab pertanyaan ummik teman barunya dari perguruan Wali Suci Jagong yang kebetulan orang jawa, begitupun Darsih.
Afra : tapi, semoga gak ada lagi penyiksaan kayak gini. Lihat ni, apa siku Afra jadi luka tadi gara-gara merayap.
Aini : neh, aku ni lihat jek, biru langsung. Kaos ku pun sobek jadinya.
Dewi : kak, kenapa kakak berdua pake kaos kaki?
Afra tertawa mendengarnya dan menjawab: “karena kaki itu bagian dari aurat perempuan dek.”
Dewi : ijoh, alem di kam kak geh?
Afra : wih.. Alhamdulillah.. adik pun harus tau tentang aurat dek..
Dewi : ya kak,
Aini pun ikut tertawa melihat ekspresi wajah Afra.
Ketika mereka sibuk berbincang-bincang, teman-teman petugas masak pagi ini jauh lebih sibuk, terutama yang dari perguruan Afra. Mereka kehabisan minyak lampu dan jadinya gak bisa masak. Tapi, Afra di kreatif gak khawatir. Ketika Afra dan Aini datang, mereka langsung memerintahkan ketua kelompoknya mencari batu besar, dan dalam sekejap semua dapat ditemukan, karena tempat yang mereka tempati bernama Atu Tamun (Batu Bertumpuk), jadi bisa dengan mudah mendapatkan batu-batu besar itu,, he.. Aini juga memerintahkan anak laki-laki yang lain mencari ranting-ranting kayu kering. Sementara, Afra mulai menyusun batu itu seperti yang pernah diajarkan ibunya waktu kecil dan meminta sandal karet bekas (swallow) ke kerambah di dekat mereka, kemudian membakarnya hingga akhirnya mereka kembali bisa masak.
Tetapi, penderitaan masih belum berakhir, setalah semua selesai memasak korlap memberi instruksi kepada semua peserta untuk membawa makanannya ke lapangan serta membentuk lingkaran besar.
“dek, gak boleh ada yang makan duluan! Sekarang kakak mau nanyak, mau makan pake tangan atau sendok? Yang mau pake sendok tunjuk langit, satu, dua, tiga, lima, dua puluh…” hitung korlap ringkas. “yang pake tangan!? 1, 2, 3, 4, 11, 80.. semuanya! Nah, dek, karena kebanyakan yang mau pake tangan, jadi semua harus pake tangan, setuju?” “setuju kak!” “ada yang gak setujua? Kalo ada gak setuju silahkan keluar dari lingkaran!”. Tak ada satu pun yang mau bangun, karena semua tentu sangat lapar, karena dari tadi belum sempat menyentuh makanan apapun.
“satu orang ayo pimpin do’a!” ucap korlap lantang.
“yang mimpin do’a kakak kasih hadiah” lanjutnya.
Mendengar iming-iming itu wahyu seorang siswa SMA dari perguruan Wali Suci bangun dan memimpin do’a makan. Setelah selesai salah seorang teman wahyu berteriak, “hadiahnya kak??!” “o iya, kakak lupa” jawab korlap. “em, gak ke udah kakak kasih tadi dek? Ya kan wahyu?”. Wahyu hanya bungkam.
“tadi kan udah kakak kasih hadiahnya pembesar suara?”
Wahyu masih saja belum paham, sementara peserta yang lain sudah tertawa terbahak-bahak mendengar itu semua.
“em! Tenang.. tenang.. teman-teman semua, bukan hadiahnya yang aku pengen, karena gak pake alat itu pun suaraku udah besar. Yang penting itu hadiah pahala dari Allah.” Ujar wahyu bersahaja.
Korlap dan yang lain berseru dan bertepuk tangan.
“ya ya ya, udah..udah.. jadi dek, sebelum kita makan, panitia punya permainan. Permainannya: setiap satu suap piringnya digeser ke kanan, paham dek?” “paham kak!” “ada yang gak setuju dek?” semua menjawab serempak “enggaaak kak!” “mantap!” lanjut korlap. “kita mulai ya dek. Dalam hitungan ketiga ambil satu suap lalu geser sampe semua habis ya dek?” “ya kak!” “siap?” “siap kak!” “satu… dua… tiga!”
Satu suap dek, geser!
Dua suap dek, geser!
3 suap dek, geser!
Begitu seterusnya sampai selesai, tapi, bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, banyak di anAfra teman-teman yang membuat makanan asal-asalan. Ada yang nasinya mentah, sayurnya mentah, bahkan yang lebih parahnya, menu makanan mentah itu berada dalam piring yang paling besar yang sudah sampai 5 kali keliling pun belum juga habis.
Tapi akhirnya penderitaan itu selesai dan timbul satu penderitaan yang lebih besar lagi. Ya, itu, berenang di dalam danau yang cukup dalam, bagi sebagian peserta ini mudah, tetapi tidak untuk Afra, karena Afra tidak bisa berenang. Bisa sich, tapi Afra tidak bisa berenang sejauh dan sedalam itu. Jantung Afra sudah mulai berdetak kencang, sangat kencang hingga tak terkontrol, rasanya Afra ingin lari dari sana, tapi apa boleh buat, ia dan yang lain sudah janji tadi pagi akan mencintai tanah air dan mengiyakan kata Pembina perguruan, yaitu :
“lautan akan ku sebrangi,
Gunung akan kudaki,
Tanah akan kucintai,
Dan lingkungan akan kulindungi.”
Sehingga mereka harus berenang diperairan yang dalam, mendaki gunung untuk menanam pohon, mencium tanah untuk bukti cinta dan mengutip sampah untuk melindungi lingkungan.
Tak terasa dari berenang di pagi buta hingga berjemur menanam pohon di bawah terik matahari, jam akhirnya menunjukkan pukul 12:30, semua peserta diperintahkan untuk istirahat dan shalat. Setelah itu diperintahkan membereskan barang untuk bersiap-siap pulang.
Setelah semua selesai, peserta dibariskan lagi di lapangan untuk mengikuti upacara penutupan perkemahan pemuda pencak silat Indonesia, yang diberik yel-yel. PESILAT! Pendekar muda tetap semangat!
Hari ini acara penutupan berjalan dengan haru dan keceriaan, haru ketika ketua umum mengatakan rasa bangganya kepada semua calon pesilat pendekar muda Indonesia dan ceria ketika tiba waktu salam-salaman yang diiringi dengan tingkah kocak pesilat putra.
Di dalam hati Afra sangat senang bisa mengikuti acara ini, karena ia bisa menjadi berani dan semangat pendekar mudanya semakin berapi-api karena ia benar-benar bisa menjadi pesilat nasional seperti kakak-kakak letingnya. Ia benar-benar ingin menjadi PENDEKAR MUDA INDONESIA. Berkorban demi Negara yang tercinta, semangat! Maju terus pencak silat Indonesia, maju pendekar muda! (soraknya dalam hati).
Kegiatan perkemahan ini pun diakhiri dengan tos bersama diselingi sorakan penuh semangat dari semua perguruan yang mengikuti acara ini dalam rangka meningkatkan silaturrahmi antar pesilat Indonesia.
BANGKIT PERSILATAN INDONESIA! HAAAAaaaaTT!
Ketika acara usai, Afra teringat dengan kisah sebelum berangkat ke lokasi yang penuh cobaan. Afra dipercayakan membawa kompor dan dandang yang seharusnya di antar jam 11:30 serta mereka menyusul jam 14:30 tetapi tiba-tiba saja Pembina Afra mengatakan semua pesilat harus ada di lokasi tepat jam 12:00 itu semua membuat Afra kesal, bukan karena barang-barangnya yang belum siap, karena Afra sudah membereskannya dari kemarin, tetapi Aini teman satu sekolahnya belum belanja peralatan-peralatan yang harus dibawa. Tapi Afra tentu ingin on time, begitupun Aini. Akhirnya, tanpa pikir panjang, mereka langsung pulang dan mengambil barang ke rumah masing-masing, kemudian janjian ketemu di pasar untuk membeli semua peralatan. Selesainya langsung ke lokasi bersama teman-teman Tunas NusanAfra yang berjumlah 16 orang.
Tetapi, karena acara perkemahan sudah usai, rasanya tak perlu lagi mengingat kejadian buruk itu, termasuk ketika mereka harus lari di atas batu kerikil untuk memindahkan alat masak ke bawah dekat dengan danau. Ughh, sangat mengesalkan mengingatnya.
Semua peserta sudah mulai pulang dan berlalu dari lokasi kegiatan, begitupun dengan Afra dan teman-teman Tunas, yang memilih langsung pulang karena harus ke sekolah lagi besok, di jalan mereka bersorak,
PESILAT! PENDEKAR MUDA TETAP SEMANGAT! YOOOO….
BY: Cahaya, Takengon

Kamis, 16 Juni 2011

Journey to Tebing Tinggi City Part 1



JOURNEY TO TEBING TINGGI CITY
2011, feb 28th
Pagi ini rencana berangkat ke Kota Tebing Tinggi, tapi gak jadi karena ternyata hari ini pelepasan secara resmi siswa praktek oleh Kepala SMK Negeri 3 Takengon. Aku mewakili jurusan Teknik Gambar Bangunan menerima ID-Card dan jurnal secara simbolis dari Kepala Sekolah. Kemudian, sedikit penjelasan tentang modul dari panitian PSG.
Perlu teman-teman ketahui PSG itu Pendidikan Sistem Ganda atau kami sering menyebutnya dengan Prakerin yaitu Praktek Kerja Industri.
Hari ini –senin- jadi berangkat ke Tebing Tinggi, tapi malam. Ya sekitar jam 9 malam kami berangkat dari rumah pak Sunardi menggunakan Toyota Avanza warna silver. Next, canda ria menghiasi keberangkatan kami. Melewati gunung dan jalan yang berkelok-kelok, dalam hati aku berseru “Selamat tinggal Kota Takengon! Semoga kita bertemu lagi!”. Begitulah, kami meninggalkan orangtua kami, saudara, kampung halaman kami, teman-teman sekolah, teman-teman organisasi, dan para guru serta kakak-kakak seperjuangan.
Pengalaman perjalanan agak sedikit jorok, maklumlah –cerita muntah!- kadang terjadi dalam perjalanan.
Kami berhenti di beberapa tempat sekedar mengambil nafas segar. Yang aku ingat di Aceh Timur, tepatnya di sebuah masjid, aneh! Kamar kecilnya banyak, tapi airnya susah. Ya sudahlah tak mengapa, di luar ada tempat wudhu’ untuk cuci muka dan berwudhu’ bagi yang berhajat tentunya. Lanjut deh!
2011, march 1st
Malam itu, oh bukan, hampir subuh di dekat perbatasan Aceh-Sumatera Utara mobil kami ditilang –wuih, UUD nih!- alasannya, kelebihan muatanlah, inilah itulah, yang akhirnya menggugurkan uang dari kantong pak Nardi.
Di salah satu kabupaten dalam Propinsi Sumatera Utara –lupa kabupaten apa- tepat di deoan Kantor Kepolisiannya ada lagi yang menilang kami. Tapi teman-teman, supir kami langsung tancap gas, tak peduli lagi.
Singkat cerita, sampailah kami di rumah pak Sunardi sekitar jam 7 pagi, desa Bandar Khalifah, kabupaten Deli Serdang, Medan. Kami istirahat beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Tebing Tinggi.
Ba’da ashar kami melanjutkan perjalanan ke Kota Tebing Tinggi!
Lihat kanan kiri sepanjang perjalanan, kadang pandangan teduh melihat alam, namun tak jarang miris melihat orang-orang lalu lalang. Kurang lebih waktu Isya kami sampai di Base camp DMStudio Consultant. Langsung saja si empu rumah mengajak kami untuk makan malam. Sambil makan bicara tentang ini dan itu, sebagai pengantar selamat datang kepada kami.
Sehabis makan, ada sedikit Open Ceremony yang diadakan perusahaan itu. Ya, semacam ajang perkenalan antara kami siswa PSG dengan Crew CV.DMStudio Consultant. Disitu kami diperkenalkan satu persatu. Ada bapak Ansoriawan selaku Pimpinan CV tersebut, bang Dede yang konon jadi pembimbing kami, mas Sam sang Designer, bang Dian yang ahli lapangan, Bang Iman yang dikenalkan kepada kami sebagai penghuni lab, dan bang Sidiq sebagai teknisi computer.
Kami juga memperkenalkan diri, saya Anwar Suradi, Edwin Novpriandi, Maulana Maghribi, dan Alpandi Fitri, eh cup, Fitrah maksudnya. . Beserta kami ada pak Sunardi, pembimbing kami di sekolah.
Udah deh, panjang diskusinya, lewat ya. Kami mandi malem-malem, yah maklum, baru sampe trus suhu panas lagi. Wah, gerah pokoknya. Selanjutnya, itu agenda pribadi.
2011, march 2nd
Pukul 4 pagi, ane bangun langsung ke UGD terdekat (kamar mandi maksud saya). Sepulangnya bang Dede nyamperin, “bangunin kawan-kawannya ya, ntar suruh siap-siap, jam 6 kita berangkat!”, wow, baru bangun dan dapat mandate gitu. Langsung deh ane bangunin kawan-kawan tuk shalat shubuh dan siap-siap berangkat. Suasana agak tegang, kami baru sampe paginya langsung turun ke lapangan. Breefing sebentar, bang Dede selaku coordinator menjelaskan teknis pekerjaan. Langsung dibentuk tim untuk menempati tiap POS yang sudah ditentukan.
Cepat-cepat! He,, ada yang salah masuk mobil yang bukan timnya. Gak sempat pake sepatu, wah-wah seru deh pokoknya. Sedikitpun tak kenal masih dengan Tebing Tinggi waktu itu, salam pertama kami adalah bau karet dari pabrik karet terdekat yang tidak jauh dari base camp.
Saya satu tim dengan bang Sidiq sebagai petugas Pos 2, sementara Pos 1 ditempati Maulana dan bang Iman. Pos yang lainnya juga telah ditempati oleh petugas yang bersangkutan. Kami bertugas sebagai Surveyor OD (Origin-Destination) yaitu survey dengan tugas mencatat plat nomor kendaraan yang lewat dihadapan surveyor, tujuannya untuk mengetahui asal dan tujuan kendaraan tersebut.
23 NAC, 10 DE, 12 LT, 44 NA, 31 SE, …… begitulah, setiap kendaraan ditulis platnya, ada sih yang terlewat, kebanyakan Sepeda Motor. Kami bergantian mencatat dan membaca. Nomor-nomor ini dimasukkan ke kolom sesuai dengan jenis kendaraannya. Mobil ke kolom mobil, truk ke kolom truk, dan lain-lain juga demikian.
Pos lainnya ada yang mempunyai tugas yang sama dengan kami, ada juga yang berbeda, yaitu survey LHR (survey menghitung volume kendaraan yang melewati jalan yang dimaksud per 15 menit, dengan melihat arah kendaraan tersebut). Sepeda motor 4, Bus 1, mobil pribadi 2, trailer 1, dan seterusnya sampai sepeda dan lain-lain. Kami juga mencatat per 15 menit tapi Cuma pas terang hari. Sedangkan survey LHR mulai pukul 6 pagi 2 maret sampai 6 pagi esok harinya.
Pulang pas dzuhur untuk ISHOMA (Istirahat Shalat Makan) lanjut setelahnya saya gak lagi survey OD tapi pindah tempat dan tugas survey LHR di Sp. Medan.
Kemudian ganti lagi survey OD tapi lokasinya masih di Sp. Medan dengan Alpandi dengan arah kendaraan yang berbeda. Sampai waktu senja dan dijemput pulang.
Malamnya, selepas makan dan keperluan ini itu, terjun lagi menggantikan petugas LHR di Sp. Medan, saya dengan Bang Dede, sambil survey dapat wejangan. Sudahlah, sekitar hampir tengah malam, digantikan dengan petugas lainnya. Dan saya pulang ke base camp untum istirahat dan keperluan pribadi.
Sampai disini dulu ya teman-teman, Journey to Tebing Tinggi Part 1 telah selesai. Kita berjumpa lagi di seri yang lain. Tentunya dengan cerita yang lain pula. Saya ucapkan terimakasih telah membaca cerita ini. Salam manis. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons