Sabtu, 10 Mei 2014

KISAH PENGEMIS



Alkisah, ada seorang lelaki yang sedang duduk-duduk bersama istrinya. Mereka sedang memakan seekor ayam panggang. Kemudian datanglah seorang pengemis, memelas “Berilah untukku sebagian dari yang telah Allah berikan pada kalian.” Maka lelaki tadi bangkit dan mencelanya. Pengemis tadipun beranjak dengan perasaan terluka dan sedih.
Setelah berlalunya hari, masa berganti, lelaki tadi menjadi miskin setelah sebelumnya kaya. Dia butuh untuk meminta-minta pada manusia dan mulai hidup dari sedekah orang-orang dermawan. Dia tidak sabar atas cobaan ini. Diapun pergi dari negerinya setelah menceraikan sang istri. Sang istri ini menikah dengan orang lain.
Tatkala dia duduk bersama suaminya makan sesuatu, muncul seorang pengemis di depan pintunya, memelas, “Berilah untukku sebagian apa yang telah Allah berikan pada kalian.” Sementara di depan mereka ada ayam. Maka berkatalah si suami pada sang istri, “Berikan ayam ini dan beberapa roti besar untuknya.”
Lalu, setelah dia memberikannya pada pengemis tadi, sang istri kembali sambil menangis. Maka, si suami bertanya padanya tentang sebab apa dia menangis. Sang istripun menjawab sambil berkata, “Pengemis tadi adalah suamiku yang pertama!”
Sang istri menceritakan kepada suaminya kisah seorang pengemis yang datang lalu ditolak oleh suaminya pertama dengan tidak hormat. Maka berkatalah si suami, “Demi Allah, akulah pengemis itu!”
(Diterjemahkan dari Baena Yadaek 3 hal. 402)

Minggu, 04 Mei 2014

TAUBAT


TAUBAT

Bertaubatlah pada Allah,
semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Bertaubatlah pada Allah,
semoga Allah menghapus kesalahan-kesalahan kita dan menggantikannya dengan kebaikan.
Bertaubatlah dengan sebenar-benarnya,
yakini bahwa kebenaran itu benar,
dan ingkari segala kebatilan.

Sebuah Renungan


WAHAI JIWA
Oleh: Ibnu Surapati

Aku berkata pada jiwa
Wahai jiwa
Engkau mengharap ridha-Nya
Tapi kau maksiati
Engkau ingin kasih sayang-Nya
Tapi kau khianati

Wahai jiwa
Kau harus tahu
Saat Allah ridha padamu
Semua selain-Nya turut meridhaimu

Hai jiwa
Apa yang kau rindui
Mutiara hatimu tak kan pergi
Jika takdir itu memang untukmu
Sungguh kita pasti kan bertemu

Wahai jiwa
Apakah rindu yang kau pendam
Hari-harimu penuh bayangannya
Memenuhi hati dan pikiran
Kalau saja kau tahu
Kaki ini kan terus melangkah
Tak peduli penat dan lelah

Hingga aku yakin dan bahagia
Saat kaki ini menginjak surga.

April 2014

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons