Minggu, 21 April 2013

Optimisme dan efeknya terhadap jantung



Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

(Arrahmah.com) – Penelitian medis terbaru memastikan akan pentingnya optimisme dan berita gembira, dan memperingatkan bahaya pesimisme, terutama terhadap pasien jantung, bagaimana dengan ajaran agama kita? Mari kita baca:

***

Betapa agungnya ilmu dan pengajaran yang dibawa oleh Islam, dan betapa indahnya ayat-ayat Al-Quran, sebagaimana indahnya sabda Nabi Muhammad saw … Bahwa beliau (Nabi saw) selalu menunjukkan sikap optimis dan memberikan berita gembira berupa rahmat dari Allah, dan beliau tidak pernah merasa sedih atas berbagai urusan dunia, karena beliau selalu mengamalkan firman Allah: “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [Yunus: 58].

Bahwa nabi saw juga mengagumi dan memotivasi untuk memiliki sikap dan berjiwa optimis, sebagaimana beliau sangat jauh dari orang-orang yang pesimis, bahkan melarang takhayul dan “pandangan hitam/pesimis” terhadap masa depan.

Karena itu Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)

Maka wajib bagi kita meneladani sunnahnya dan mengambil petunjuk darinya; untuk tidak berjiwa pesimis tapi selalu optimis terhadap hal-hal yang baik, karena ia merupakan salah satu akhlak nabi saw.

Namun bagaimana dengan ilmu pengetahuan modern, apakah ada penemuan ilmiah yang mengkonfirmasikan tentang ajaran Nabi pembawa rahmat ini ?

Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa seseorang yang berjiwa pesimis dapat membinasakan dirinya, terutama bagi seorang yang mengidap penyakit jantung. Dalam penelitian menunjukkan adanya tingkat kerentanan bagi penyakit jantung yang berakibat pada kematian, terutama pada saat terjadi sikap pesimis yang memberikan pengaruh pada kondisi kesehatan jantungnya.

Dr. John Barefoot dari Pusat Medis Universitas Duke of America berkata: ini adalah penelitian awal yang menguji seberapa besar pengaruh motivasi terhadap pasien dalam kesembuhan penyakitnya, yang akhirnya mempengaruhi peluang mereka untuk bertahan hidup.

Pada penelitian sebelumnya difokuskan pada dampak harapan pasien terutama yang berhubungan dengan kondisi penyakitnya, kemampuannya untuk melanjutkan hidup secara normal, dan secara khusus yang berkaitan dengan aktivitas dan latihan fisik. Namun sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa pengaruh sikap optimisme seorang pasien pada kesehatan fisiknya sangatlah besar.

Para peneliti dari Duke University of America melakukan penelitian terhadap 2800 pasien yang menderita sakit arteri koroner, setidaknya, setiap mereka menderita penyumbatan pada arteri. Dan pada kesempatan itu, para pasien diminta untuk mengisi kuesioner untuk mengukur ekspektasi mereka tentang kemampuan mereka untuk pulih dari penyakit dan pola pemulihan kehidupan normal.

Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa 978 pasien meninggal dalam kurun waktu 6-10 tahun sejak dimulainya penelitian ini. Hal ini mengungkapkan bahwa 66% penyebab kematian mereka adalah karena penyakit arteri koroner.

Hasil studi ini menyebutkan adanya tingkat kematian terhadap pasien yang menunjukkan sikap pesimis terhadap kesehatan mereka, yaitu dua kali lipat dibandingkan dengan pasien lain.

Menurut sudut pandang peneliti; adalah sesuatu yang wajar jika terjadi hubungan antara depresi dengan meningkatnya angka kematian pada seseorang, walaupun hasil temuan saat ini menunjukkan besarnya dampak harapan pasien pada pemulihan dan kesahatan dari penyakitnya, meskipun ada faktor-faktor psikologis atau sosial lainnya.

Dr “Barefoot” menegaskan bahwa penelitian memberikan nasihat kepada para dokter akan pentingnya memberikan perhatian khusus terhadap sudut pandang dan pola fikir pasien tentang penyakitnya, karena hal ini akan berdampak pada pemulihan. Sebagaimana dijelaskan bahwa pasien yang memiliki harapan positif (optimis) terhadap penyakitnya, tidak hanya akan memperbaiki perasaannya saja, namun juga dapat memberikan harapan untuk hidup lebih lama.

Dari temuan-temuan ilmiah ini dapat kita fahami akan pentingnya sikap optimis, terutama orang yang beriman akan rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya:

يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”. (Al-Imran:171).

Dan Nabi saw sendiri merasa takjub dengan segala urusan orang beriman, karena seluruhnya mengandung kebaikan: Jika ditimpa musibah (kesusahan) bersabar maka itu adalah baik baginya, dan jika ia ditimpa kesenagan bersyukur dan itu juga baik baginya!!

Dari sini kita mendapatkan dua pelajaran tentang ciri orang yang bertaqwa: sabar dan syukur. Karena itu orang yang beriman memiliki ciri khas tersendiri daripada orang yang tidak beriman melalui dua karakter tadi, terutama pada saat berhadapan dan berinteraksi dengan kehidupan dan problematikanya. Bahwa sabar dan syukur membuat orang beriman lebih optimis dan jauh dari sikap pesimis, karena ia sadar bahwa Allah selalu bersamanya, dan tidak akan merasa khawatir dengan masa depannya, apalagi surga telah menunggunya sehingga dirinya tidak akan merasa bersedih hati terhadap sesuatu yang luput darinya, dan tidak takut terhadap keburukan yang sedang dihadapinya. Allah SWT berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. [Yunus: 62-64].

Apakah ada sesuatu yang lebih indah yang dimiliki orang yang beriman dari kabar gembira di dunia ini dan di akhirat nanti, apa yang dia inginkan setelah itu?

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ * دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Do’a mereka di dalamnya Ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka Ialah: “Salam” dan penutup doa mereka Ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. (Yunus:9-10)

Potensi Khusyu’

Dampak mendengarkan suara Al-Qur’an terhadap jantung
Potensi kesembuhan dengan Alquran: Antara Ilmu dan Iman
Tips untuk mengatasi stres melalui Al-Quran dan Sains
Penyembuhan melalui mendengarkan Al-Quran
——————–

www.kaheel7.com/



Referensi:

1.http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=87828

2.http://www.webmd.com/heart-disease/news/20080313/pessimism-deadly-for-heart-patients

3.http://www.paltoday.com/arabic/news.php?id=62570

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/04/13/optimisme-dan-efeknya-terhadap-jantung.html#sthash.sqNTzjeS.dpuf

Kamis, 18 April 2013

Doa memohon keteguhan di atas agama Islam



(Arrahmah.com) – Kita hidup di zaman yang kehidupan mayoritas manusianya telah jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akidah mereka telah dicampuri oleh banyak kesyirikan dan kekufuran. Ibadah mahdhah mereka telah banyak dicampuri oleh bid’ah. Akhlak mereka telah diwarnai oleh kemaksiatan dan kemungkaran. Pedoman hidup mereka dalam aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya telah digantikan oleh hukum-hukum kufur produk hawa nafsu pemimpin kekufuran.

Kita harus berpegang teguh erat-erat dengan Al-Qur’an dan as-sunnah dalam kondisi zaman seperti ini. Kita harus bergaul dan berteman erat dengan orang-orang shalih dalam lingkungan yang islami. Merekalah yang akan menasehati kita saat kita lalali dan menguatkan kita saat kita lemah. Merekalah yang akan mendukung kita agar senantiasa istiqamah di atas kebajikan dan ketakwaan.

Dan selain semua usaha manusiawi tersebut, kita senantiasa memerlukan bantuan ilahi. Berdoa memohon bimbingan dan pertolongan Allah merupakan sebuah keniscayaan. Jangankan kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam pun tetap memohon bimbingan dan pertolongan Allah agar senantiasa istiqamah di atas agama Allah Ta’ala.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau biasa membaca doa:

«اللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ قَائِمًا، وَاحْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ قَاعِدًا، وَاحْفَظْنِي بِالْإِسْلَامِ رَاقِدًا، وَلَا تُشْمِتْ بِي عَدُوًّا حَاسِدًا، وَاللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ»

“Ya Allah, jagalah aku dengan Islam saat aku berdiri, jagalah aku dengan Islam saat aku duduk, jagalah aku dengan Islam saat aku tidur dan janganlah Engkau membuat musuh yang mendengki gembira atas penderitaanku!

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang kunci-kuncinya berada di tangan-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang kunci-kuncinya berada di tangan-Mu.” (HR. Al-Hakim no. 1924. Dinyatakan shahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

(muhibalmajdi/arrahmah.com)

- See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/doa-memohon-keteguhan-di-atas-agama-islam.html#sthash.QqNl82kx.dpuf

Wawancara



Bismillahirrahmanirrahim..
Diceritakan kepada sebuah kisah, tentang seorang anak yang sedang di interview untuk masuk sebuah ma’had (setingkat SMP). Kisah ini mengajarkan kita bagaimana pikiran dan kata-kata positif mempengaruhi cara pandang kita dan cita-cita kita.
Interviewer (I) : kenapa kamu memilih ma’had dari pada sekolah umum? Padahal disana kamu bisa bebas untuk berpacaran, main ha-pe, dsb.
Anak (A) : saya ingin menjadi orang Islam yang paham tentang Islam.
Sang Interviewer terharu mendengar jawaban anak tersebut, lalu bertanya,
I : apa cita-citamu?
A : saya ingin menjadi pengusaha!
I : lho.. kamu ingin jadi pengusaha kok ke tempat seperti ini, bukannya ke tempat umum yang lain?
Dengan nada mantap sang anak menjawab,
A : saya ingin menjadi PENGUSAHA MUSLIM!
Lihatlah betapa anak ini berbicara dengan ungkapan yang positif, yang sangat jarang kita temui ungkapan seperti itu dari orang seumurannya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)
Rasulullah –Shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan bersikap lemah (pesimis)”. (HR. Muslim)

sumber gambar : https://www.redhuanassyabab.blogspot.com/

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons