Jumat, 24 Oktober 2014

TPC Go Green!


TPC Go Green!
Setelah lama, baru kali ini Ade bermain lagi di Taman Kota. Sedang asyik bermain Ade melihat dua anak sedang memungut sampah.
“Eh, itu kan Nazhif dan Thahir. Kok mereka mungut sampah? Memangnya mereka pemulung ya?” kata Ade memperhatikan apa yang mereka kerjakan.
“Apa yang berkilau di baju mereka itu? Samperin ah.” Katanya lagi. Tapi, belum sempat melangkah jauh kedua anak tadi sudah hilang di tengah keramaian.
Ugh ... biar di sekolah saja kutanyai mereka.” Geramnya kesal.
Esoknya di sekolah.
“Hai Nazhif. Maaf, jangan tersinggung ya. Kamu pemulung?” tanya Ade agak janggal. Nazhif hanya diam.
“Aduh, maaf ya Zhif. Aku ... Cuma nanya aja,” Ade jadi salah tingkah.
Nazhif menoleh kemudian tersenyum, “Gak apa-apa kok. Aku memang pemulung, De,”
“Hah, beneran Zhif?”
“Iya, bener.” Nazhif mengangguk yakin.
Dari jauh tampak Thahir berlari mendekat. Di tangannya ada secarik kertas. Dia tiba dengan nafas tak teratur. Thahir agak terkejut dengan keberadaan Ade.
“Eh Ade. Apa kabar?” tanyanya basa basi.
“Alhamdulillah, baik-baik saja. Tapi ... maaf ya Thahir. Apa benar kalian berdua pemulung?” Ade kembali bertanya sembari mengerutkan muka.
Thahir tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah lencana dari sakunya.
“Yup. Kami berdua adalah pemulung. Tepatnya Pemulung Cerdas! Nih.” Thahir menyodorkan lencananya kepada Ade.
“Wah, indah sekali. Hah, TPC Go Green? Maksudnya?” Ade masih belum mengerti.
Serentak Nazhif dan Thahir tertawa.
“Ade.. Ade.. Kita bukan pemulung seperti yang kamu sangka. Aku dan Thahir adalah anggota TPC alias Tim Pemulung Cerdas. Klub pecinta alam di sekolah kita. Kami mengumpulkan sampah dan menyisihkan yang masih bisa didaur ulang.” Terang Nazhif.
“Dan ini rancangan program kami. Beberapa solusi yang berkaitan dengan sampah. Di antaranya pemisahan sampah organik dan non-organik lalu daur ulang sampah.” Thahir pun menunjukkan kertas tadi.
“Jadwal sekolah kalian nggak terganggu nanti?” Ade menyelidik.
“Nggak, kok. Kita aksi ketika libur saja. Kalau pekerjaan kecil bisa sepulang sekolah. Yang pastinya nggak mengganggu pelajaran.” Thahir coba meyakinkan Ade.
“Dan sebagai pengenal kita pakai lencana ini.” Nazhif menambahkan.
“Jadi, yang kulihat berkilau kemarin lencana ini ya?” Ade penasaran.
“Di mana kamu lihat?”
“Di Taman Kota.”
“Oh, itu kita sedang menjalankan misi.” Kata Nazhif kemudian.
“Kalau begitu aku gabung juga.”
Welcome!”
Nazhif dan Thahir saling tos. Mereka tertawa bersama. Lalu,
“TPC beraksi!”
Liburan-liburan berikutnya sebagian mereka isi dengan kegiatan TPC. Mereka jadi semakin akrab. Semakin hari semakin banyak pula karya-karya yang mereka hasilkan. Sandal dari perca, tempat pensil dari perca dan kardus, tempat kue dan pot bunga hias dari kertas, kantong tempat remote dan masih banyak lagi. Di sekolah pun mereka selalu berada di peringkat lima besar.
“Besar nanti mau jadi apa ya?” tanya Thahir suatu hari ketika mereka berteduh di bawah pohon.
“Aku ... Pengusaha Tekstil!” teriak Nazhif.
“Aku ... Tukang sampah aja!” teriak Ade menyahut.
“Hahahaha ....” Mereka merasa sangat bahagia.

September 2014

Sabtu, 06 September 2014

Sangkan Kemang


Dulu aku memang sedikit penakut. Sedikit saja ada bayangan putih langsung dikira hantu. Ditambah lagi dengan tontonan film hantu masa kecil. Di antara sekian banyak peristiwa menakutkan yang kualami ada saat ibuku bercerita.
"Beberapa tahun yang lalu kami mengenal 'kemang'." Ibu memulai ceritanya.
"Kemang itu apa Mak?" kami penasaran.
"Kemang itu suka menculik orang, terutama anak-anak!"
Kami bergidik ketakukan.
"Jadi, di kampung pernah ada kejadian. Seorang anak tetangga main sendirian di luar rumah pas waktu magrib. Padahal orangtuanya sudah menyuruh anak ini untuk masuk. Tapi dia tidak menghiraukannya. Orangtuanya menunggu hingga hari sudah gelap, menjelang Isya. Mereka mulai khawatir. Lalu mereka memanggil-manggil dan mencari kesana kemari. Mungkin saja dia ke rumah kawannya. Eh, ternyata tidak ada. Maka seluruh warga kampung gempar.
"Nampaknya dia sudah diculik Kemang!" Komentar seorang warga.
"Ayo kita cari dia sampai dapat!" timpal yang lain.
"Ayo!!" semua warga setuju.
Pencarianpun dimulai. Dengan membawa pentungan dan obor warga mulai mencari sambil memanggil-manggil anak tersebut. Begitulah caranya mencari orang yang diculik Kemang.
Hampir dua jam mereka mencari tapi belum ketemu juga. Mereka menyusuri tepi hutan. Memeriksa pohon-pohon besar. Siapa tahu Kemang membawanya naik kesana.
Akhirnya setelah berlalu beberapa jam, dan wargapun telah masuk agak jauh ke dalam hutan, anak itu ditemukan sedang tertidur di atas sebuah dahan yang sangat besar. Anak itupun dibawa pulang, sedang dia dalam kondisi lemas." Ibu mengakhiri ceritanya.
"Ayo kencing dulu baru tidur." pintanya kemudian.
"Hii...takut!!" kata adikku.
"Ah kalian ini. Minta diceritain eh malah ketakutan. Ayo cepat!"
Begitulah cerita itu sampai sekarang masih populer di kampung kami. Namun, aku sudah tak percaya lagi hal begituan.
---------
Terpilih dalam kuis cerita horor oleh Nabila Anwar di Grup FB PBA. Dapat hadiah novel 'Peti Misterius'.

Sabtu, 30 Agustus 2014

BEDARING

Bedaring (dalam bahasa Gayo) merupakan aktivitas berjemur di pagi hari. Aktivitas ini banyak dilakoni oleh orang-orang tua. Ada sebagian yang menuduh bahwa mereka itu tak ada kerjaan. Bisa jadi benar. Namun, vitamin D karena terkena cahaya matahari pagi itu sangat penting bagi kesehatan. Maka, marilah kita beraktivitas di luar rumah sambil menikmatinya. Begitu juga saran saya kepada sekolah dan kantor. Buatlah aktivitas yang sesuai dan asyik di pagi hari. Sehingga kita tetap sehat dan tidak dicap 'pemalas'. Badan sehat pikiran terang.

#hidup_sehat

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Masthoms16 | Macys Printable Coupons